Dipicu Pangan Musiman, Inflasi Kota Madiun 2025 Masih dalam Batas Aman
MADIUN - Laju inflasi Kota Madiun melonjak di penghujung 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Desember 2025 mencapai 0,81 persen secara month to month (m-to-m). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Desember 2024 yang tercatat 0,43 persen maupun Desember 2023 sebesar 0,23 persen.
Kepala BPS Kota Madiun, Abdul Aziz, menjelaskan bahwa kenaikan inflasi akhir tahun terutama dipicu oleh meningkatnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik hingga 2,52 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menyumbang inflasi dengan kenaikan sebesar 0,77 persen.
“Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Desember adalah cabai rawit,” ujar Aziz, Selasa (6/1).
BPS mencatat harga cabai rawit melonjak rata-rata hingga 90,62 persen dan menyumbang inflasi sebesar 0,26 persen. Bahkan, pada awal Desember, harga cabai rawit sempat menembus Rp 100 ribu per kilogram di tingkat konsumen.
Seiring masuknya masa panen, harga cabai rawit kemudian berangsur turun dan kini relatif stabil di kisaran Rp 40 ribu per kilogram. “Setelah itu harga turun bertahap karena pasokan mulai membaik,” jelasnya.
Selain cabai rawit, sejumlah komoditas lain juga ikut mendorong inflasi Desember. Di antaranya daging ayam ras yang naik 6,79 persen, bawang merah 11,48 persen, wortel 29,86 persen, telur ayam ras 3,07 persen, bensin 0,67 persen, semangka 15,39 persen, emas perhiasan 4,65 persen, minyak goreng 2,52 persen, serta kangkung yang melonjak 27,56 persen.
Secara kumulatif sepanjang 2025, pergerakan inflasi di Kota Madiun terbilang fluktuatif. Beberapa bulan bahkan mencatat deflasi, yakni Januari sebesar -0,31 persen, Februari -0,78 persen, Mei -0,35 persen, dan Agustus -0,07 persen. Namun, tekanan harga kembali meningkat menjelang akhir tahun, terutama pada Desember.
Untuk inflasi tahunan, year on year. Kota Madiun pada 2025 tercatat sebesar 2,75 persen. Angka tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 2,5 persen kurang lebih 1 persen, serta lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur sebesar 2,93 persen dan inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen.
Aziz menambahkan, kenaikan harga sejumlah komoditas sejatinya telah diantisipasi melalui berbagai langkah pengendalian, termasuk pelaksanaan operasi pasar untuk beras dan telur ayam ras. Namun, cabai rawit tetap menjadi komoditas yang sulit dikendalikan karena sangat bergantung pada faktor cuaca dan pasokan nasional.
“Cabai rawit memang komoditas yang sangat sensitif. Hampir setiap akhir tahun selalu menjadi pemicu inflasi,” pungkasnya.
(Dspp/kus/madiuntoday)