Jangan Sepelekan Ruam Merah Usai Demam, Kenali Gejala Campak
MADIUN – Demam tinggi yang disertai munculnya ruam merah pada kulit sering kali dianggap sebagai penyakit biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda penyakit campak yang mudah menular dan berisiko menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik.
Perlu diketahui, campak merupakan penyakit infeksi yang menular melalui saluran pernapasan. Penularan terjadi melalui percikan ludah atau droplet saat penderita batuk atau bersin. Virus bahkan dapat menular sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelahnya.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Madiun, Denik Wuryani, menjelaskan bahwa gejala campak biasanya muncul sekitar 10 hingga 14 hari setelah seseorang terinfeksi virus.
“Biasanya diawali dengan demam tinggi, kemudian muncul ruam atau bintik merah pada kulit. Itu yang paling khas. Selain itu juga sering disertai batuk kering, pilek, dan mata merah,” ujarnya.
Di Kota Madiun sendiri, kasus campak masih ditemukan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, pada tahun 2025 tercatat sebanyak 27 kasus campak. Sementara hingga Februari 2026, jumlah kasus yang tercatat sudah mencapai 13 kasus. Meski demikian, upaya pencegahan melalui imunisasi di Kota Madiun menunjukkan hasil yang cukup baik.
“Pada tahun 2025, cakupan imunisasi campak mencapai 99,66 persen dari target 95 persen. Artinya ini sudah melebihi target,” jelas Denik.
Meski begitu, pemerintah tetap mendorong masyarakat yang belum mendapatkan imunisasi agar segera melengkapinya. Termasuk melalui program imunisasi kejar atau catch-up bagi bayi usia 9 hingga 19 bulan yang belum mendapatkan vaksin campak. Masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak, terutama pada anak-anak.
Denik juga mengingatkan bahwa campak tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan. Jika menyerang anak dengan daya tahan tubuh lemah atau tidak segera ditangani, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius.
“Campak bisa menyebabkan diare berat yang memicu dehidrasi, pneumonia atau infeksi paru-paru, radang otak, hingga kebutaan bahkan kematian” jelasnya.
Menjelang libur panjang Lebaran, masyarakat juga diminta lebih waspada terhadap potensi penularan penyakit ini, terutama saat berinteraksi dengan bayi dan anak kecil.
“Yang paling penting menjaga kebersihan diri. Terutama jika berinteraksi dengan bayi, sebaiknya tidak sembarangan memegang atau menyentuhnya. Kadang kalau bertemu anak kecil kita spontan ingin menyentuh atau menggendong, padahal bayi masih sangat rentan karena imunitasnya belum kuat. Karena itu, harapannya setiap orang bisa menjaga kebersihan diri. Jika merasa sedang sakit, sebaiknya menahan diri untuk tidak terlalu dekat dengan bayi atau anak kecil,” pungkasnya.
(Rams/rat/madiuntoday)