170 Pendekar Hijau Siap Kawal Gerakan Pilah Sampah, Plt: Edukasi Warga Jadi Kunci



MADIUN – Keseriusan Pemerintah Kota Madiun dalam menangani persoalan sampah terus diperkuat. Salah satunya dengan melibatkan 170 relawan Pendekar Hijau sebagai ujung tombak edukasi dan pendampingan masyarakat untuk menyukseskan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah. Langkah tersebut ditandai dengan pembukaan Pelatihan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan oleh Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun di SunCity Madiun, Rabu (15/7).


Sebanyak 170 Pendekar Hijau yang berasal dari seluruh kelurahan di Kota Madiun mengikuti pelatihan tersebut. Nantinya, para relawan akan berkolaborasi dengan ketua RT untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu, menghidupkan kembali Program Kampung Iklim (ProKlim), serta mengaktifkan bank sampah di lingkungan masing-masing.


Plt Wali Kota F. Bagus Panuntun mengatakan, Pendekar Hijau memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat di tingkat lingkungan.


“Pendekar Hijau ini adalah relawan yang akan menjadi penggerak di tengah masyarakat. Tugasnya memberikan edukasi kepada warga mengenai pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu. Namun pelaksanaannya tetap didampingi ketua RT agar program ini berjalan lebih efektif dan mendapat kepercayaan dari masyarakat,” jelasnya. 


Selain memberikan edukasi, Pendekar Hijau juga akan mendampingi ketua RT dalam memantau perkembangan pengelolaan sampah di wilayahnya. Pemerintah Kota Madiun juga tengah menyiapkan sistem dashboard yang terintegrasi dengan laporan dari RT, bank sampah, hingga petugas Dinas Lingkungan Hidup sehingga pelaksanaan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah dapat dipantau secara berkala.


Lebih lanjut Plt walikota mengungkapkan, penguatan pengelolaan sampah dari rumah tangga menjadi langkah strategis mengingat kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Winongo semakin terbatas. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah menjadi kunci agar volume sampah yang masuk ke TPA dapat terus ditekan. Sementara itu, pemanfaatan insinerator masih menunggu standar dan regulasi resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup.


Untuk mendukung gerakan tersebut, Pemerintah Kota Madiun juga telah menyiapkan bantuan operasional sebesar Rp10 juta bagi setiap RT. Penyaluran bantuan sempat tertunda akibat penyesuaian kode rekening sesuai regulasi terbaru dari Kementerian Dalam Negeri dan akan diserahkan secara simbolis bersamaan dengan pencanangan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah pada 31 Juli mendatang.


Melalui sinergi antara pemerintah, ketua RT, Pendekar Hijau, dan masyarakat, Pemerintah Kota Madiun optimistis Gerakan Pilah Sampah dari Rumah dapat menjadi budaya baru. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi seluruh warga.

(Bip/kus/madiuntoday)