Saat Pilah Sampah Jadi Kebiasaan, Limbah Pun Berubah Jadi Berkah
MADIUN – Kesadaran memilah sampah dari rumah menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Semangat itulah yang kini kembali digaungkan Pemerintah Kota Madiun melalui Gerakan Madiun Memilah yang akan diluncurkan pada 31 Juli mendatang. Jauh sebelum gerakan tersebut hadir, warga Kelurahan Winongo, Siyam Sumartini, telah membuktikan bahwa kebiasaan memilah sampah dari rumah bukan hanya mampu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Berawal dari keprihatinan melihat banyaknya sampah yang dibakar dan dibuang sembarangan, terutama botol plastik yang terus menumpuk, Siyam terdorong mencari solusi agar limbah tersebut tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat. Dari situlah lahir gagasan mengelola sampah melalui konsep ekonomi kreatif dan ekonomi kerakyatan.
"Ide awalnya karena melihat banyak sampah yang dibakar dan dibuang sembarangan. Dari situ muncul konsep Bank Sampah untuk menciptakan lapangan pekerjaan melalui ekonomi kreatif dan ekonomi kerakyatan. Sampah yang terkumpul kemudian dijual, ditabung, sehingga memiliki nilai ekonomi. Sementara melalui ekonomi kreatif, sampah kami guna ulang dan daur ulang agar dapat dimanfaatkan kembali," ujar Siyam, pelopor berdirinya Bank Sampah Kota Madiun, Rabu (29/7).
Keprihatinannya terhadap tingginya volume sampah plastik di Indonesia membuatnya memilih botol plastik sebagai salah satu bahan utama yang dimanfaatkan. Menurutnya, sampah plastik menjadi persoalan serius karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai apabila tidak dikelola dengan baik.
"Itu berdasarkan Indonesia mendapatkan peringkat dunia kedua penghasil sampah plastik. Sehingga saya tergerak ingin membantu pemerintah menangani sampah plastik dari hulunya," katanya.
Di tangan Siyam, botol plastik bekas berukuran 600 mililiter diolah menjadi sapu yang kuat dan awet. Untuk menghasilkan satu buah sapu dibutuhkan sekitar 25 botol plastik atau sekitar 2,5 kilogram botol bekas. Setelah proses produksi berjalan lancar, kelompoknya mampu membuat sekitar 10 sapu setiap hari. Artinya, ratusan botol plastik berhasil dimanfaatkan kembali setiap harinya dan tidak berakhir menjadi sampah.
Tak hanya diolah menjadi sapu, seluruh bagian botol plastik dimanfaatkan sebagai upaya mendukung konsep zero waste. Botol berukuran kecil dicacah menggunakan mesin untuk diolah menjadi produk lain, sedangkan tutup botol disulap menjadi berbagai kerajinan, seperti gantungan kunci, asbak, dan kipas tangan.
Sementara itu, plastik kresek dimanfaatkan menjadi tas, dompet, bunga, hingga paving block. Dengan begitu, hampir tidak ada sampah plastik yang tersisa menjadi residu.
Kesadaran tersebut juga diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai barang bekas dimanfaatkan kembali agar tidak menjadi limbah, termasuk galon bekas yang digunakan sebagai media budidaya lele. Baginya, perubahan harus dimulai dari diri sendiri sebelum mengajak orang lain.
Menjelang peluncuran Gerakan Madiun Memilah, Siyam turut melakukan berbagai persiapan sebagai salah satu peserta yang akan mengisi stan edukasi. Ia menyiapkan beragam produk hasil daur ulang sekaligus mengajak masyarakat mengubah pola pikir bahwa sampah bukan lagi sesuatu yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomi.
"Persiapannya satu memberikan edukasi kepada masyarakat lewat bank sampah. Saya tidak henti-hentinya di grup bank sampah itu mengajak, ayo kita memilah sampah dari rumah, minimal mengurangi sampah dari hulunya," ungkapnya.
Menurut Siyam, Gerakan Madiun Memilah menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah. Terlebih, Pemerintah Kota Madiun terus mendorong perubahan perilaku warga melalui berbagai program, termasuk dukungan anggaran hingga Rp10 juta per RT untuk memperkuat pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.
"Harapan saya, mudah-mudahan dengan spektakulernya kegiatan Madiun Memilah ini menjadi embrio untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Kota Madiun peduli dengan sampahnya sendiri. Kalau sampah itu ditangani dari rumah, ini akan mengurangi volume sampah di Kota Madiun," tuturnya.
Lebih dari sekadar menghasilkan berbagai produk daur ulang, bagi Siyam keberhasilan sesungguhnya adalah ketika semakin banyak masyarakat menjadikan memilah sampah sebagai kebiasaan sehari-hari. Sebab, perubahan perilaku yang dimulai dari setiap rumah menjadi fondasi penting dalam mendukung Gerakan Madiun Memilah sekaligus mewujudkan Kota Madiun yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
(Dspp/rat/Madiuntoday)