Harga Pangan Turun Saat Panen Raya, Kota Madiun Kembali Catat Deflasi pada Juli 2026
MADIUN – Kota Madiun kembali mencatat deflasi pada Juli 2026. Kondisi tersebut didorong melimpahnya pasokan komoditas hortikultura saat musim panen raya yang membuat sejumlah harga pangan mengalami penurunan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,12 persen secara bulanan (month to month/m-to-m). Ini menjadi deflasi ketiga yang terjadi di Kota Madiun sepanjang tahun ini, setelah Januari sebesar 0,23 persen dan April sebesar 0,02 persen.
Kepala BPS Kota Madiun Abdul Azis menjelaskan, peningkatan pasokan hortikultura, khususnya bawang merah dari sejumlah sentra produksi, menjadi faktor utama yang memengaruhi penurunan harga di tingkat konsumen.
“Pasokan hortikultura meningkat karena panen raya bawang merah di sejumlah sentra produksi sehingga harga di tingkat konsumen turun,” ujarnya, Selasa (4/8).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan andil mencapai 0,35 persen. Komoditas bawang merah memberikan kontribusi paling besar setelah harganya turun hingga 29,60 persen atau menyumbang deflasi sebesar 0,19 persen.
Selain bawang merah, penurunan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas lain seperti cabai rawit, telur ayam ras, tomat, jeruk, cabai merah, semangka, daging ayam ras, emas perhiasan, serta tarif kereta api.
Di sisi lain, beberapa komoditas masih mengalami kenaikan harga, di antaranya bensin, beras, biaya pendidikan taman kanak-kanak, ketimun, sepeda motor, laptop, dan daging sapi. Kenaikan tersebut turut menahan laju deflasi agar tidak lebih dalam.
Azis mengatakan, meski harga Pertamax Turbo sempat mengalami penyesuaian pada awal Juli, rata-rata harga bensin yang dipantau BPS masih meningkat 1,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, dimulainya tahun ajaran baru juga memengaruhi penyesuaian tarif pada kelompok pendidikan.
Secara kumulatif, inflasi Kota Madiun selama Januari hingga Juli 2026 tercatat sebesar 1,60 persen. Adapun inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 2,86 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur sebesar 2,87 persen maupun nasional yang berada di angka 2,88 persen.
Meski perkembangan harga pangan saat ini relatif terkendali, BPS mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap potensi tekanan inflasi pada paruh kedua tahun ini. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Bank Indonesia, fenomena El Nino dan ketidakpastian geopolitik global masih berpotensi memengaruhi pasokan sejumlah komoditas pada bulan-bulan mendatang.
(Bip/kus/madiuntoday)