Bosbouw Tak Sekadar Bangunan Tua, Ada Sejarah Pendidikan di Dalamnya



MADIUN – Di balik bangunan tua Bosbouw, tersimpan cerita panjang tentang pendidikan dan perjalanan sejarah Madiun. Berdiri sejak 1912, kawasan ini pernah menjadi tempat pendidikan kaum pribumi hingga berkembang sebagai sekolah kehutanan. Jejak tersebut kembali dikenalkan kepada masyarakat melalui Heritage Walking Tour, Sabtu (8/8).


Bukan sekadar berjalan dan melihat bangunan lama, peserta diajak mengenal cerita yang melekat di setiap sudut kawasan Bosbouw. Kegiatan pun dikemas menarik dengan melibatkan sekitar 30 anak PAUD Mentari. Mereka menyusuri kawasan sembari mengikuti aktivitas outbound, sehingga belajar sejarah terasa lebih dekat dan menyenangkan.


Ketua Historia Van Madioen, Septian Dwita Kharisma, mengatakan Heritage Walking Tour merupakan agenda rutin komunitas untuk mengenalkan kembali berbagai tinggalan sejarah kepada masyarakat.


“Kami ingin mengenalkan sejarah kepada warga Kota Madiun, terutama anak-anak. Bahwa di sekitar kita ada banyak tinggalan sejarah yang bisa menjadi ruang belajar sekaligus cara menyenangkan untuk mengenalkan heritage,” ujarnya.


Bosbouw sendiri memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Kawasan tersebut dibangun pada 1912 sebagai tempat pendidikan kaum pribumi yang dipersiapkan menjadi pamong praja atau pegawai negeri. Berbagai pengetahuan diberikan, mulai bahasa Belanda, pertanahan, hingga pertanian.


Perjalanannya berlanjut pada 1932. Bosbouw kemudian menjadi Bosbouw School setelah sekolah kehutanan di Malang dan sekolah pertanian di Bogor digabung. Tempat ini pun menjadi bagian dari perjalanan sejumlah tokoh penting. Salah satunya Gubernur Suryo yang pernah menempuh pendidikan di Bosbouw.


Cerita sejarah itulah yang membuat Bosbouw tetap menarik untuk dikunjungi. Bagi pegiat literasi, belajar sejarah langsung dari lokasi aslinya memberikan pengalaman yang berbeda.


Larasati Kusmaning Dewi dari Komunitas PIC Madiun Book Party mengaku tertarik mengikuti kegiatan literasi dan sejarah di wilayah eks Karesidenan Madiun. Menurutnya, Heritage Walking Tour menjadi cara menarik untuk mengenal sejarah sekaligus menikmati proses belajar bersama.


“Saya memang senang mengikuti kegiatan literasi dan sejarah di wilayah eks Karesidenan Madiun. Kegiatan seperti ini menarik karena bisa belajar langsung di lokasi dan melibatkan berbagai usia, sehingga literasi terasa lebih menyenangkan,” katanya.


Antusiasme peserta turut terlihat sepanjang kegiatan. Tak hanya masyarakat sekitar, sejumlah komunitas dari wilayah Madiun Raya juga ikut menyusuri kawasan bersejarah tersebut.


Laras berharap kegiatan serupa terus digelar dengan mengangkat lokasi-lokasi bersejarah lain di Kota Madiun. Sebab, menurutnya, masih banyak cerita lokal yang belum diketahui masyarakat luas.


“Kalau ke depan ada kegiatan serupa di Kota Madiun, saya tertarik untuk ikut lagi. Saya rasa masih banyak tempat bersejarah di Madiun yang belum banyak diketahui dan menarik untuk kita kenalkan bersama,” pungkasnya. (rams/im/madiuntoday)