Dari Ketertarikan pada Fisika hingga Tembus NUS, Anin Bawa Nama Kota Madiun Mendunia
MADIUN – Di usia yang masih sangat muda, 23 tahun, M. ‘Anin Nabail ‘Azhiim telah melangkah jauh dalam perjalanan akademiknya. Membawa nama Kota Madiun, Anin, sapaan akrabnya, kini menempuh pendidikan doktoral (PhD) Ilmu Fisika di National University of Singapore (NUS), salah satu kampus terbaik dunia, melalui beasiswa penuh. Perjalanannya menjadi bukti bahwa anak Kota Madiun juga mampu menembus akademik dunia.
Perjalanan pemuda kelahiran November 2002 tersebut tentu tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejak menempuh pendidikan di MIN 1 Kota Madiun, Anin sudah menunjukkan ketertarikannya pada sains dengan aktif mengikuti berbagai olimpiade. Ketertarikannya kemudian mengerucut pada fisika saat bersekolah di MTsN Kota Madiun. Sejak itu, Anin semakin serius menekuni fisika dan mengikuti berbagai kompetisi di bidang tersebut.
“Bagi saya, mempelajari hal-hal dan fenomena-fenomena alam di sekitar saya merupakan hal yang sangat menarik,” ungkapnya.
Bagi Anin, semakin dalam mempelajari fisika, semakin luas pula rasa penasarannya. Fisika membawanya mengenal dunia dari partikel yang sangat kecil hingga objek-objek raksasa penyusun alam semesta. Ketertarikannya semakin kuat saat melanjutkan pendidikan di MAN 2 Kota Malang. Di sana, Anin mulai mengenal fisika kuantum, bidang yang menurutnya menarik karena menyimpan beragam fenomena unik sekaligus memiliki penerapan dalam teknologi maju.
Setelah lulus, Anin memilih mengambil jurusan Fisika (murni) dan mulai menyadari bahwa minat utamanya berada di bidang riset. Dari situlah jalan akademiknya mulai terbentuk. Anin langsung mendaftar program PhD di NUS tanpa mengambil S2 terlebih dahulu. Ia menjelaskan, sistem pendidikan tinggi di Singapura memungkinkan lulusan S1 mendaftar langsung ke program doktoral, selama pendidikan S1 nya memenuhi standar yang ditetapkan
“Karena sistemnya memang memperbolehkan, saya langsung mendaftar S3 setelah saya wisuda S1,” jelasnya.
Untuk bisa diterima di program PhD sekaligus memperoleh beasiswa, Anin harus melalui proses seleksi yang cukup ketat. Ia harus bersaing dengan pendaftar lain, termasuk mereka yang telah menyelesaikan pendidikan S2. Beasiswa yang diterima Anin merupakan pendanaan penuh dari pihak kampus, mencakup biaya kuliah sekaligus uang hidup bulanan selama menjalani studi di NUS.
Namun, perjalanan Anin tidak selalu mulus. Ia juga pernah mengalami kegagalan saat mengikuti berbagai olimpiade, Ia pun sempat merasa kemampuannya tidak cukup untuk bersaing. Tapi dukungan orang tua, keluarga, guru, dan mentor olimpiade menjadi kekuatan baginya untuk kembali bangkit.
“Madiun memang kota yang relatif kecil dan belum begitu dikenal kalau terkait dengan pendidikan. Namun, hal itu janganlah jadi penghalang untuk berusaha mengembangkan potensi diri semaksimal mungkin. Orang yang potensial tidak harus dari kota-kota besar, melainkan bisa dari mana saja,” tuturnya.
Menurut Anin, pendidikan menjadi salah satu kunci yang membawanya hingga ke NUS. Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk terus belajar, baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan dan pengalaman lainnya.
“Saya adalah contoh orang yang nasibnya berubah karena pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan saya hingga bisa kuliah di salah satu universitas top dunia. Setelah lulus, saya ingin membangun karier sebagai fisikawan dan bekerja sebagai peneliti postdoctoral. Saya berharap suatu saat nanti bisa ikut berkontribusi terhadap perkembangan fisika di Indonesia,” pungkasnya. (Istimewa/rat/madiuntoday)