Sosok Pemimpin Ideal



Ruang Satu 

Kota Madiun telah banyak mengalami perubahan. Baik perubahan fisik maupun dari segi peningkatan SDM masyarakatnya. Ini bukan penilaian saya. Tapi ini penilaian dari banyak pihak. Banyak dari mereka yang datang dan mengutarakan kekagumannya. Dari wisatawan biasa hingga para pejabat. Tak sedikit yang kaget. Khususnya yang pernah datang kemari sebelumnya. Maklum, kota kita memang mangklingi. Ini tentu bukan hanya karena saya sebagai wali kota. Tetapi peran kita bersama.

Sebagai pemimpin saya hanya mengarahkan. Teman-teman ASN-lah yang menjalankan. Di Kota Madiun cepat karena teman-teman ASN di Pemerintah Kota Madiun sudah tidak lagi mengacu jam kerja. Tetapi hasil kerja. Jam berapapun kalau memang harus dikerjakan ya harus diselesaikan saat itu juga. Artinya, tidak terikat jam kerja. Saya sudah mewanti-wanti itu. Saya tidak menerima alasan menunda pekerjaan karena di luar jam kerja. Yang seperti itu tidak berlaku selagi saya memimpin. 

Sering saya katakan, ASN itu bukan ndoro. Jadi harus melayani bukan dilayani. Yang namanya melayani ini ya harus setiap saat. Kalau memang tugas memanggil ya harus dikerjakan. Jangan beralasan sudah di luar jam pekerjaan. Seperti petugas pemadam kebakaran. Jam berapapun ada panggilan kebarakan, ya harus berangkat. Mereka memang dibagi tiga shif. Kantor pelayanan lain harusnya juga seperti itu. Dibagi menjadi beberapa shif agar pelayanan bisa 24 jam penuh. Paling tidak ada yang standby. Kalau sewaktu-waktu dibutuhkan ada yang merespon saat itu juga. Tidak dibiarkan sampai besok masuk jam kerja. 

Saya juga memegang prinsip itu. Jam kerja saya sudah tidak lagi jam kerja normal. Kalau saya hitung, rata-rata saya bekerja 16 jam sehari. Sudah begitu tidak ada hari liburnya. Sabtu dan Minggu saya tetap bekerja. Ada saya undangan kegiatan. Saya memang membuka diri. Selagi waktunya tidak berbarengan, pasti akan saya datangi. Masyarakat silahkan mengundang saya. Biarpun di akhir pekan. Pasti saya datang kalau waktunya tidak bertabrakan. 

Saya memang tidak begitu suka di kantor. Nyaris tidak pernah bekerja dari balik meja. Saya lebih suka berada di tengah masyarakat. Lebih suka berada langsung di lokasi. Entah itu pagi, siang, bahkan malam. Kalau ada urusan berkas yang harus saya tanda-tangani, berkasnya yang menyusul saya di lokasi. Biasanya di antarkan sekretaris pribadi atau ajudan. Jadi saya pastikan urusan pekerjaan lain tidak terhambat meski saya jarang berada di kantor. Apalagi, kalau berkas atau surat tersebut penting yang butuh diperiksa atau ditandatangani segera. Tidak perlu menunggu saya ke kantor. 

Terakhir, seperti saat usai melaksanakan Salat Jumat di Pasar Sleko beberapa waktu lalu. Ada sekretaris yang menyusul saya ke lokasi lantas menyodorkan berkas. Saya periksa satu per satu dokumen tersebut. kemudian juga perlu saya ditandatangani. Apapun bisa menjadi alas tulisnya. Tak terkecuali, kap mobil. Selesai itu, saya melanjutkan kegiatan. Saya sengaja Salat Jumat di sana untuk sekaligus mengecek proyek pembangunan stan pasar. Selain itu, juga menyapa sejumlah pedagang. Beberapa ada yang saya beli. Itu merupakan salah satu cara saya belanja masalah. Cari tahu langsung ke masyarakat. Apa yang bisa dibenahi, segera ditindaklanjuti.

Sekali lagi, ASN itu pelayan masyarakat, jadi harus melayani bukan dilayani. Agar bisa melayani dengan baik, kita harus memahami apa keinginan yang dilayani. Salah satu caranya dengan meninjau langsung, bukan hanya sekedar katanya-katanya. Pemimpin yang ideal harus seperti itu. Harus bisa memahami perasaan yang dipimpin. Dengan begitu, jalannya pembangunan bisa sesuai dengan harapan masyarakat. Sesuai dengan apa yang diinginkan mereka. 

Menjadi sosok pemimpin yang bisa seperti itu tentu tidak mudah. Butuh pengalaman dan latar belakang pendidikan yang linear. Sebelum saya menjadi wali kota 4,5 tahun yang lalu, saya sudah melewati banyak hal yang berkaitan dengan pemerintahan. Ya, saya memang orang birokrat. Setidaknya 35 tahun mengabdi menjadi ASN di Pemerintah Kota Madiun. Di awali dari guru hingga terakhir sebagai Sekda Kota Madiun. Saat masih CPNS, saya menjadi guru di SMP 2 Pilangkenceng. Setelah diangkat PNS, mengajar di SMU 1 Kota Madiun. Sekarang SMAN 1 Kota Madiun. 

Setidaknya saya mengajar 13 tahun lamanya. Dalam latar belakang pendidikan, saya juga melanjutkan S2 magister pendidikan. Ini saya tempuh agar bisa mendidik dengan baik. Alhamdulillah itu menjadi modal berharga bagi saya tatkla menjadi wali kota. Sosok pendidik diperlukan untuk meningkatkan SDM masyarakat. Kemajuan sebuah daerah memang bukan sekedar dari perubahan fisiknya. Tetapi juga peningkatan kualitas SDM masyarakat. Wajah kotanya bagus, tetapi SDM masyarakatnya tertinggal ya sama saja. Itu mengapa saya cukup perhatian di dunia pendidikan hingga menggelontorkan hampir Rp 100 miliar untuk pengadaan laptop bagi siswa dan guru. 

Sosok pemimpin yang ideal juga harus memahami soal birokrasi pemerintahan. Alhamdulillah, saya cukup kenyang pengalaman di pemerintahan. Saya pernah menjabat Kepala Pendidikan dan Kebudayaan serta Kepala Pendapatan Daerah. Setelah itu, saya menjadi Sekda Kota Madiun selama delapan tahun lebih. Sudah beberapa kali melayani wali kota. Pengalaman di birokrasi ini penting agar jalannya pemerintahan juga cepat. Kalau ada yang mau menghambat atau ada yang mau aneh-aneh, saya bisa langsung tahu.  

Ilmu birokrasi saja tentu tidak cukup. Pemerintahan bukan sekedar urusan birokrasi yang bagus. Tetapi juga bagaimana memahami tentang kedaerahan. Beruntung saya dulu S1 Ilmu Geografi. Saya memang guru geografi saat masih mengajar. Sedikit banyak yang paham ilmu alam dan bagaimana menjaga lingkungan. Ini penting agar potensi di daerah itu bisa tergarap maksimal tanpa menimbulkan kerusakan. Sering kita mendengar eksploitasi alam tanpa memikirkan keseimbangan lingkungannya. Saya tidak ingin seperti itu. Saya orang alam. Saya harus bisa menjaga alam ini dari kerusakan. 

Karena itu pembangunan di Kota Madiun selalu berbasis lingkungan. Contoh sederhananya, penambahan resapan di tiap sepuluh meter dalam pembangunan saluran. Kebanyakan orang menilai saluran merupakan tempat mengalirkan air. Kalau orang alam tidak seperti itu. Saluran itu juga sekaligus tempat cadangan air. Makanya ditambahkan areal resapan. Saat musim kemarau, areal resapan ini akan sangat membantu. Arela itu salah satu yang dibutuhkan tanaman. 

Kemajuan suatu daerah juga diukur dari peningkatan perekonomiannya. Urusan ini butuh sosok pemimpin yang berpengalaman di bidang usaha. Butuh sosok pemimpin yang memahami ilmu manajemen. Biarpun saya mengawali karir sebagai guru, saya punya pengalaman dikeduanya. Saya punya usaha kecil-kecilan. Salah satunya, perhotelan. Dulu, juga jual-beli mobil. Saya bisa dibilang lulusan Gamasoru. Ya, Gabungan Makelar Ngisor Waru. Pengalaman saya urusan ini dipertajam dengan ilmu akademik. Yakni, S2 Magister Manajemen. Artinya, saya sebagai akademisi sekaligus praktisi. Tak heran, nyaris semua pembangunan di Kota Madiun selalu bermuara pada peningkatan ekonomi. 

Saya percaya ada banyak sosok pemimpin hebat di luar sana. Tetapi hebat saja tak cukup kalau belum memberikan bukti. Kota Madiun tidak hanya berubah menjadi semakin menarik. Tetapi juga mengukir banyak penghargaan dan prestasi. Setidaknya, tercatat 276 penghargaan dan prestasi selama 4,5 tahun belakangan ini. 


Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, M.Pd