Berawal dari Pelatihan Disnaker KUKM, Batik Warga Winongo Tembus ke Mancanegara



Berawal dari Pelatihan Disnaker KUKM, Batik Warga Winongo Tembus ke Mancanegara


MADIUN – Siapa yang tak mengenal batik? Kain warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO ini bukan sekadar busana. Namun, sudah menjadi identitas bangsa. Di Kota Madiun, semangat melestarikan batik tumbuh dari sebuah rumah sederhana di Jalan Gajah Mada 21 Kelurahan Winongo. Dari sanalah WMH Batik lahir dan berkembang. Sebuah merek lokal ini telah membawa nama Kota Madiun hingga ke pasar internasional.


‘’Produk kita terjauh dibawa ke Cekoslowakia, Eropa. Mereka tidak hanya membeli dan membawa produk kita tapi juga belajar cara membatik. Biasanya yang sering mereka bawa kaos ecoprint dan juga sarung,’’ kata Lilik Widya, pemilik WMH Batik saat ditemui, Selasa (3/2).


Sampainya produk batik Widya ke Eropa tak terlepas dari banyaknya wisatawan asing yang datang. Salah satunya, dari wisatawan yang tergabung dalam program Worldpacker di Kelurahan Winongo. Produk WMH Batik kerap dibawa sebagai buah tangan sekaligus dipasarkan kembali di luar negeri. Tak ayal, kehadiran mereka turut memperkenalkan batik dari Kelurahan Winongo tersebut ke mancanegara. 


Selain itu, Widya juga lihai memanfaatkan platform digital untuk pemasaran. Dari yang semula hanya melalui WhatsApp hingga memanfaatkan Instagram setelah mengikuti kurasi tingkat provinsi. Dukungan Pemerintah Kota Madiun turut mendorong perluasan usahanya.


“Nama WMH itu dari nama saya dengan nama suami. Karena kebetulan kami itu mencintai batik. Dari Lilik Widiawati dengan Dwi Mei Hendra, kami ambil Widia, Mei, sama Hendra jadi WMH,” tuturnya.


Perjalanan Widya di dunia batik dimulai pada September 2018 silam. Dia mengikuti pelatihan di Disnaker KUKM Kota Madiun. Dari sana, langkahnya tak lagi ragu dan mulai eksis sampai sekarang. Latar belakang pendidikannya pun sebenarnya jauh dari dunia seni. Widya merupakan jebolan Fakultas Manajemen Universitas Merdeka Malang. Namun, kecintaannya pada desain, gambar, dan batik mengalahkan jalur karier formal yang ia tempuh. Misi Widya sederhana, namun bermakna. 


“Saya berpikir begini, batik itu kan mahal. Bagaimana semua orang bisa memakai batik yang tidak mahal,” katanya. 


Dalam perkembangannya, WMH Batik tak hanya memproduksi batik tulis, tetapi juga batik cap, batik ciprat, hingga ecoprint. Motif yang pernah dibuat pun beragam, mulai dari pecel, Winongo, hingga motif lawasan yang dikenal rumit. 


“Yang paling sulit itu motif lawasan, karena dari gambar itu ada ukurannya, kayak parang, sidomukti, sidoasih itu ada patennya,” jelasnya.


Harga produk WMH Batik disesuaikan dengan jenis dan tingkat kesulitan pengerjaan. Untuk batik cap, harga mulai Rp 250 ribu per kain. Batik ciprat dari Rp 150 ribu, dan batik tulis mulai Rp 350 ribu. Pernah suatu ketika, Widya menjual karya spesial seharga Rp1,5 juta dengan motif harimau pesanan Freeport.


Proses pembuatan batik di WMH masih mengedepankan cara tradisional. Dimulai dari menggambar desain, menjiplak pola ke kain, mencanting dengan malam, mewarnai, hingga proses fiksasi menggunakan water glass agar warna tak luntur. Setelah itu, kain direbus untuk melorotkan lilin, dibersihkan, dan dijemur. 


“Kalau nyanting full sekitar empat hari. Total kurang lebih satu minggu. Kalau yang sogan bisa sampai dua minggu, tergantung motifnya. Untuk pewarnaan alam, prosesnya justru lebih Panjang, pencelupannya bisa lima sampai sepuluh kali, tergantung mau yang gelap atau muda. Pewarnaannya dari kulit kayu,” paparnya.


Tak hanya berjualan, Widya juga berbagi ilmu. Dia menjadi instruktur di sekolah, LPK, serta aktif mengadakan kegiatan “sinau bareng” dengan perajin lain dan kelompok masyarakat. Tantangan terbesar dalam membatik, menurut Lilik, adalah cuaca dan pemasaran. 


“Kalau hujan, warna bisa luntur kalau tidak cepat kering. Kedua pemasaran, tidak semua orang suka batik. Banyak yang lebih suka printing. Solusinya ya kita bikin batik yang murah supaya mereka mau beli langsung ke perajin,” jelasnya.


Tantangan utama usaha batik saat ini, lanjutnya, terletak pada aspek pemasaran dan menggaet peminat. Pasalnya, kecenderungan masyarakat lebih memilih membeli produk di toko dibandingkan langsung dari para perajin.


“Pelaku batik harus terus belajar, berkreasi, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kalau tidak, kita akan tertinggal,” pesannya.


Dengan hadirnya WMH Batik, batik Madiun diharapkan dapat melangkah lebih jauh, dikenal lebih luas, serta tetap lestari dari generasi ke generasi. (bip/rat/agi/madiuntoday)