Harga Pangan Turun, Kota Madiun Alami Deflasi Awal Tahun
Harga Pangan Turun, Kota Madiun Alami Deflasi Awal Tahun
MADIUN – Kota Madiun mencatat deflasi sebesar 0,23 persen secara bulanan (month to monthm-to-m) pada Januari 2026. Dari 10 daerah di Jawa Timur yang dipantau, hanya Kabupaten Sumenep yang masih mengalami inflasi.
Statistisi Ahli Muda BPS Kota Madiun, Emy Vidayanti, menjelaskan bahwa deflasi tersebut terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan harga hingga 1,48 persen, dengan andil deflasi sebesar 0,42 persen.
Sejumlah komoditas hortikultura menjadi penyumbang utama deflasi, di antaranya cabai rawit yang turun hingga 23,28 persen, bawang merah 18,51 persen, serta daging ayam ras 5,95 persen. Penurunan harga juga terjadi pada telur ayam ras, cabai merah, wortel, bensin, kangkung, tomat, dan brokoli.
“Cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah merupakan produk hortikultura yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap deflasi,” ujar Emy, Selasa (32).
Sementara itu, beberapa komoditas justru menahan laju deflasi karena mengalami kenaikan harga, seperti tarif jalan tol sebesar 10,98 persen, emas perhiasan 7,08 persen, dan beras 0,49 persen. Kenaikan juga tercatat pada ikan bakar, pepaya, bawang putih, jasa asisten rumah tangga, ongkos laundry, sepeda motor, hingga apel.
Emy menambahkan, komoditas hortikultura di Indonesia masih sangat dipengaruhi faktor musim. Penurunan harga sebenarnya sudah terjadi sejak Desember, namun pada Januari penurunannya lebih merata sehingga mendorong deflasi yang lebih luas.
Berdasarkan analisis cuaca dari BMKG, curah hujan di Jawa Timur pada dasarian kedua dan ketiga berada pada kategori rendah hingga menengah. Kondisi ini dinilai cukup mendukung produktivitas hortikultura karena tidak terjadi hujan berlebihan.
Untuk awal tahun 2026, dinamika harga juga dipengaruhi penyesuaian kebijakan, salah satunya kenaikan tarif tol. Ke depan, BPS mengingatkan agar tetap mewaspadai pergerakan harga pada Februari, seiring memasuki bulan suci Ramadan yang biasanya diikuti peningkatan permintaan.
“Permintaan pada Ramadan dan Lebaran umumnya naik, sehingga harga beberapa komoditas berpotensi kembali mengalami kenaikan,” jelasnya.
Emy juga menyebutkan bahwa Januari pada tahun sebelumnya sama-sama mengalami deflasi, dipicu oleh diskon tarif listrik. Sementara pada 2024 dan 2023, Kota Madiun justru mencatat inflasi. Secara tahunan (year on yearYOY), inflasi Kota Madiun pada Januari 2026 tercatat sebesar 2,83 persen.
Khusus tarif listrik, inflasi YOY tercatat cukup tinggi yakni 37,75 persen. Namun, hal ini bukan disebabkan kebijakan baru pemerintah, melainkan dampak efek basis rendah (low base effect) akibat adanya diskon tarif listrik pada Januari 2025.
“Jadi ini bukan karena kebijakan Januari 2026, melainkan efek dari diskon tarif listrik tahun lalu. Pola yang sama kemungkinan juga terjadi pada Februari,” pungkasnya.
(Dsppkusmadiuntoday)