Gempur Penularan TBC, Tim Sibatik Ulos Madiun Sasar Kontak Erat di Patihan



MADIUN – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi pekerjaan rumah di Kota Madiun. Hingga Juli 2026, tercatat 543 kasus TBC, dengan 171 di antaranya merupakan warga Kota Madiun. Untuk memutus rantai penularan, Tim Percepatan Penanggulangan TBC Kota Madiun kembali menggelar Skrining Bina Wilayah Terpadu Investigasi Kontak Tuberkulosis (Sibatik Ulos) di Kelurahan Patihan, Selasa (21/7).


Kegiatan yang melibatkan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Madiun, RS Paru Manguharjo, RSUD Kota Madiun, Puskesmas Ngegong, dan Kelurahan Patihan itu menyasar warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.


Kepala Bidang Penyediaan Layanan Kesehatan UKP UKM Dinkes PPKB Kota Madiun, Neva Candra Suroto, mengatakan investigasi kontak menjadi cara paling efektif menemukan kasus sejak dini sebelum penyakit menyebar lebih luas.


"Begitu ada satu pasien TBC, sebanyak mungkin kontak eratnya harus kami periksa. Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula penularannya bisa dihentikan," ujar


Peserta menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari wawancara, pemeriksaan kesehatan, tes Mantoux, hingga pemeriksaan menggunakan portable X-ray. Warga yang hasil pemeriksaannya mengarah pada TBC akan dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Sedangkan mereka yang belum bergejala, tetapi berisiko tertular, akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).


Program Sibatik Ulos menjadi salah satu strategi Dinkes PPKB memperluas deteksi dini TBC. Tahun ini kegiatan dilaksanakan di tujuh kelurahan, yakni Banjarejo, Kanigoro, Kejuron, Nambangan Lor, Patihan, Taman, dan Madiun Lor. Investigasi kontak juga akan diperluas ke 68 lokasi prioritas, termasuk sekolah dan lembaga pemasyarakatan.


Neva menegaskan, TBC bukan penyakit yang harus ditakuti atau membuat penderitanya dikucilkan. Menurutnya, penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila pasien disiplin menjalani pengobatan selama enam bulan.


"TBC masih sering mendapat stigma. Padahal penderitanya tidak perlu dijauhi, tetapi didampingi agar disiplin minum obat sampai sembuh. Dengan begitu, risiko penularan kepada orang lain juga bisa dihentikan," pungkasnya. 

(bip/im/madiuntoday)