Cegah Penularan TB, Dinkes Kota Madiun Gelar Skrining Terintegrasi CKG di Lapas Kelas I
MADIUN – Upaya memutus mata rantai penyebaran tuberkulosis (TB) terus digencarkan di Kota Madiun. Kali ini, sasaran pemeriksaan menyasar lingkungan Lapas Kelas I Madiun yang dinilai memiliki risiko penularan lebih tinggi karena aktivitas dan kepadatan penghuninya. Melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB), Pemkot Madiun menggelar skrining TB yang dipadukan dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), Kamis (6/8). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes-PPKB) Kota Madiun, dr. Denik Wuryani, mengatakan skrining dilakukan untuk menemukan kasus TB sedini mungkin sehingga pasien dapat segera ditangani sekaligus mencegah penyebaran penyakit di lingkungan lapas.
"Lapas menjadi salah satu lokasi yang perlu mendapat perhatian karena setiap tahun masih ditemukan kasus TB. Tahun 2025 ada 12 kasus, sedangkan tahun ini sudah ditemukan empat kasus," ujarnya.
Karena itu, pemeriksaan lebih dulu difokuskan kepada warga binaan yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB, terutama mereka yang berada dalam satu sel. Namun, layanan ini tidak hanya menyasar warga binaan, melainkan juga petugas lapas.
Selama enam hari, tim kesehatan akan melakukan pemeriksaan di Lapas Kelas I Madiun dengan target sekitar 100 orang setiap hari. Total sasaran yang disiapkan mencapai sekitar 600 orang.
Tak hanya skrining TB kegiatan juga dengan dipadukan dengan program Cek Kesehatan Gratis sehingga peserta mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Selain pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan gula darah, peserta yang dicurigai mengalami gejala TB akan menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai indikasi medis.
"Pemeriksaan dilakukan bertahap. Dokter akan melakukan skrining terlebih dahulu, kemudian bila diperlukan akan dilanjutkan dengan pemeriksaan dahak menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM), foto rontgen dada atau tes mantoux," jelas Denik.
Jika ditemukan kasus TB, pasien akan langsung mendapatkan pengobatan dan dilakukan pelacakan terhadap kontak erat lainnya. Pengobatan TB sendiri berlangsung minimal enam bulan dan dapat mencapai sembilan bulan, bergantung pada kondisi pasien.
Denik menegaskan, keberhasilan pengendalian TB tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Menjaga sirkulasi udara di dalam rumah, membiarkan sinar matahari masuk ke dalam ruangan, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah sederhana yang efektif mencegah penularan TB.
"Jangan menunggu sakit untuk memeriksakan kesehatan. Semakin cepat penyakit ditemukan, semakin cepat pula bisa ditangani sehingga peluang sembuh lebih besar dan penularan kepada orang lain dapat dicegah," tutupnya.
(Rams/rat/madiuntoday)