Kemarau Panjang Diantisipasi, BPBD Kota Madiun Siagakan Dua Tangki Air Bersih



MADIUN – Pemerintah Kota Madiun mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan seiring berlangsungnya musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun menyiapkan dua armada tangki air bersih untuk mengantisipasi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah.


Dua tangki tersebut masing-masing memiliki kapasitas 5.000 liter, sehingga total air yang dapat disalurkan mencapai 10 ribu liter. Penyiapan armada dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kemarau panjang serta potensi pengaruh fenomena El Nino.


Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Madiun Bambang Agung Hariadi mengatakan, kondisi ketersediaan air bersih di wilayah Kota Madiun hingga kini masih relatif aman. BPBD juga belum menerima permintaan penyaluran atau dropping air bersih dari masyarakat.


’’Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada daerah di Kota Madiun yang membutuhkan distribusi air bersih,’’ ujarnya. 


Meski belum ditemukan wilayah yang mengalami krisis air, BPBD tetap melakukan pemantauan secara berkala. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik-titik yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih selama musim kemarau.


Pemantauan dilakukan dengan melibatkan Tim Reaksi Cepat (TRC), pemerintah kelurahan, relawan kebencanaan, serta tokoh masyarakat. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat mempercepat penyampaian informasi apabila terjadi penurunan ketersediaan air di lingkungan warga.


BPBD juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda kekeringan atau mulai berkurangnya sumber air di wilayah masing-masing. Informasi dari masyarakat akan ditindaklanjuti melalui pengecekan lapangan untuk menentukan langkah penanganan yang diperlukan.


’’Kalau ada lokasi yang menunjukkan potensi kekeringan, segera diinformasikan,’’ kata Bambang.


Kesiapsiagaan tersebut juga mempertimbangkan pengalaman Kota Madiun menghadapi persoalan kekurangan air bersih sebelumnya. Bambang menyebut, krisis air terakhir terjadi pada 2024 dan berdampak pada warga Kelurahan Tawangrejo dan Kelun.


Saat itu, persoalan berkaitan dengan pasokan air dari sumur bor di kawasan pertanian. Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar BPBD untuk melakukan persiapan lebih awal menghadapi musim kemarau tahun ini.


’’Selain armada tangki, kami juga telah menyiagakan personel untuk distribusi air bersih jika sewaktu-waktu dibutuhkan,’’ tandasnya.

(rams/kus/madiuntoday)