CKG Sasar Siswa Baru di Kota Madiun, Jadi Langkah Awal Jaga Kesehatan Anak



MADIUN – Memulai tahun ajaran baru, kesehatan anak juga tak kalah penting untuk dipastikan. Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi anak sekolah di Kota Madiun mulai digelar secara bertahap sejak Juli hingga Agustus, menyasar siswa baru tahun ajaran 2026/2027. Pemeriksaan ini menjadi langkah awal untuk mengetahui kondisi kesehatan anak sekaligus menemukan bila ada masalah yang perlu segera ditangani.


Salah satunya berlangsung di SDLB dan SMPLB Nur Husnina Kota Madiun, Rabu (12/8). Siswa kelas 1 SD dan kelas 7 SMP pun mendapat giliran menjalani pemeriksaan dari petugas Puskesmas Manguharjo, mulai dari pengukuran dasar hingga pemeriksaan kesehatan lainnya.


Perawat Puskesmas Manguharjo Wiwid Sriwidayati mengatakan, pemeriksaan dilakukan cukup menyeluruh. Mulai dari berat badan, tinggi badan, tekanan darah, kondisi kulit, telinga, mata, hingga kesehatan gigi. Pemeriksaan juga mencakup gula darah dan hemoglobin (HB).


“Jadi kita ingin mendeteksi apakah ada masalah kesehatan pada mereka,” ujarnya.


Dari pemeriksaan tersebut, temuan yang cukup banyak berkaitan dengan serumen atau kotoran telinga dan gigi berlubang. Wiwid mengatakan, anak-anak umumnya sudah mampu merawat diri, mulai dari mandi hingga memotong kuku. Namun, pendampingan orang tua tetap diperlukan untuk memastikan kebersihan telinga dan gigi terjaga.


“Anak-anak sudah bisa membersihkan sendiri. Cuma mungkin dari pihak orang tua perlu pendampingan, mengecek apakah benar-benar sudah bersih atau masih ada kotorannya,” jelasnya.


Untuk pemeriksaan di SLB, Wiwid menjelaskan bahwa standar CKG pada dasarnya tetap sama dengan sekolah lainnya. Namun, pelaksanaannya dapat menyesuaikan kondisi masing-masing anak. Ada beberapa jenis pemeriksaan yang mungkin tidak dapat dilakukan secara optimal karena keterbatasan komunikasi.


“Sebenarnya tidak ada perbedaan, sama. Cuma mungkin ada beberapa yang kita tidak bisa laksanakan di SLB. Standarnya tetap sama. Contohnya tes buta warna, karena komunikasinya terbatas,” terangnya.


Penyesuaian tersebut dilakukan agar pemeriksaan tetap nyaman bagi anak. Apalagi, menurut Wiwid, penanganan anak berkebutuhan khusus juga membutuhkan pendekatan yang lebih ekstra, termasuk jika ditemukan kondisi yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.


Jika ditemukan masalah kesehatan, Puskesmas akan memberikan edukasi kepada orang tua. Temuan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, seperti serumen yang mengeras atau masalah gigi permanen, akan dirujuk ke Puskesmas.CKG anak sekolah sendiri dilaksanakan rutin setiap tahun. Harapannya, pemeriksaan tersebut bisa menjadi langkah sederhana bagi anak, guru, dan orang tua untuk sama-sama mengetahui kondisi kesehatan sejak dini.


“Harapannya kita bisa menemukan secara dini masalah-masalah kesehatan pada anak. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula masalah kesehatan bisa ditangani,” pungkasnya.

(Dspp/rat/madiuntoday)