Berhasil Tarik Perhatian Dunia, Bank Sampah Kota Madiun Jadi Jujugan Wisatawan Mancanegara



MADIUN - Ketertarikan pada bangunan berkelanjutan membawa langkah Niko Camfferman jauh dari Adelaide, Australia, hingga ke Kelurahan Winongo, Kota Madiun. Perempuan 20 tahun itu memilih belajar langsung soal pengolahan sampah bukan di ruang kelas, melainkan di tengah aktivitas warga.

Niko tiba di Kota Madiun pada 7 Januari 2026 dan dijadwalkan kembali ke negaranya pada 20 Januari 2026. Selama 12 hari, mahasiswi arsitektur yang fokus pada desain bangunan itu mengikuti program relawan internasional Worldpacker, yang bekerja sama dengan Kelurahan Winongo melalui program Kawista (Kampung Wisata).

Plt Lurah Winongo, Dian Puspita, menjelaskan bahwa dalam program Worldpacker terdapat tiga pilihan kegiatan utama yang ditawarkan kepada relawan asing, yakni membatik, belajar di Kampung Inggris, dan pengelolaan bank sampah. Dari ketiga pilihan tersebut, Niko mantap memilih bank sampah.

“Peran Bank Sampah Matahari di Winongo ini pionir. Dia tertarik karena di sini sampah anorganik tidak hanya dipilah, tapi diolah menjadi barang bernilai guna,” ujar Dian.

Di Bank Sampah Matahari, Niko belajar mengolah plastik bekas menjadi berbagai produk kreatif. Dari tangan warga dan relawan, sampah plastik disulap menjadi tas, botol plastik dirangkai menjadi sapu, hingga limbah anorganik lainnya menjadi kursi dan asbak. Menariknya, ini menjadi kali pertama kegiatan bank sampah di Winongo diikuti relawan asing.

Setiap hari, aktivitas para relawan telah disusun dengan konsep tukar ilmu pengetahuan. Niko tidak hanya belajar dari warga, tetapi juga berbagi sudut pandangnya sebagai mahasiswa arsitektur. Selama program berlangsung, ia tinggal di rumah warga dan menikmati hidangan sederhana yang disiapkan sehari-hari, sebuah pengalaman yang membuatnya merasa dekat dengan kehidupan lokal.

Keberadaan program Kawista sendiri telah berjalan selama dua tahun dan terus berkembang. Saat ini, tercatat ada 14 relawan Worldpacker yang mengikuti program, masing-masing selama 10 hari. Mulai tahun ini, wisatawan relawan dikenai kontribusi sebesar 5 dolar AS per hari. Niko memilih paket 12 hari setelah melihat ulasan positif program Winongo di laman Worldpacker.

Ke depan, Kelurahan Winongo menargetkan penguatan kolaborasi. Selain melanjutkan kerja sama dengan Worldpacker, rencana pengembangan juga mencakup sinergi dengan PT KAI melalui program edutrip yang berhenti di Winongo, serta kerja sama dengan hotel bintang lima untuk membuat paket wisata khusus.

“Kami ingin wisatawan yang datang ke Kota Madiun merasakan suasana seperti pulang ke rumah eyang,” kata Dian.

Dalam waktu dekat, Kelurahan Winongo juga bersiap menyambut kedatangan relawan lain dari Spanyol, India, dan Irlandia. Harapannya, Kampung Wisata Winongo tak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga ruang belajar lintas budaya.

(rams/kus/madiuntoday)