Depresi Tak Mengenal Usia, Psikolog RSUD Dr. Soedono Ajak Masyarakat Lebih Peduli dengan Kesehatan Mental
Depresi Tak Mengenal Usia, Psikolog RSUD Dr. Soedono Ajak Masyarakat Lebih Peduli dengan Kesehatan Mental
MADIUN– Dalam kurun waktu kurang dari sepekan, dua peristiwa yang berkaitan dengan gangguan kesehatan mental terjadi di wilayah Kota Madiun. Fenomena ini menjadi perhatian bersama sekaligus pengingat pentingnya kepedulian terhadap kesehatan mental di tengah masyarakat.
Psikolog Klinis RSUD dr. Soedono, Hana Uswatun Hasanah menjelaskan bahwa secara umum kondisi depresi berat tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses yang dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam diri individu maupun lingkungan sekitar.
“Depresi biasanya dipicu oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal dapat berupa kepribadian yang rentan, riwayat keluarga dengan gangguan kesehatan jiwa, penyakit menahun, hingga penyalahgunaan zat adiktif seperti narkotika, psikotropika, dan obat-obatan yang tidak digunakan sesuai fungsinya,” jelas Hana, Rabu (42).
Sementara itu, faktor eksternal dapat berasal dari pengalaman traumatis, tekanan ekonomi yang berkepanjangan, kurangnya keterbukaan dengan lingkungan sekitar, serta pengaruh gaya hidup digital seperti pinjaman online dan judi online. Menurutnya, pola hidup serba instan juga turut memengaruhi kondisi emosi masyarakat.
“Zaman sekarang serba cepat dan instan. Mulai dari memesan makanan hingga berbagai aktivitas lain yang dipermudah. Hal ini bisa membuat sebagian orang menjadi kurang sabar dan lebih mudah tersulut emosi,” ujarnya.
Hana memaparkan, gejala depresi dapat dikenali melalui perubahan perilaku yang tidak biasa. Misalnya, kehilangan minat terhadap hobi, kurang memperhatikan perawatan diri seperti jarang mandi atau makan, hingga munculnya kecemasan berlebihan terhadap berbagai hal yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan.
Ia juga menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kecenderungan pasien yang mengalami depresi didominasi usia muda, mulai dari remaja hingga dewasa awal. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana kasus depresi lebih banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa.
“Saat ini usia tidak lagi menjadi patokan. Sekarang Pasien depresi lebih ke usia muda dominan, dengan keluhan utama berupa kecemasan,” imbuhnya.
Terkait upaya pencegahan, Hana menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan jasmani dan rohani. Menjaga pola makan, tidur yang cukup, serta merawat diri dinilai dapat membantu menekan tekanan psikologis.
“Semakin seseorang merawat dirinya, itu menunjukkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Ketika jasmani terawat, psikis pun lebih seimbang. Untuk depresi ringan, mendekatkan diri kepada Tuhan juga dapat menjadi salah satu upaya penguatan mental,” terangnya.
Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan layanan telekonseling Sahabat Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, baik yang berbayar maupun gratis. Tersedia pula layanan Healing 119, hotline darurat dari Kementerian Kesehatan RI yang didukung IPK Indonesia, menyediakan konseling kesehatan mental 24 jam secara gratis.
“Di Kota Madiun sendiri sudah tersedia sejumlah fasilitas layanan kesehatan yang dilengkapi psikolog, mulai dari klinik, puskesmas, hingga rumah sakit, yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat” pungkasnya.
(Bip/rat/madiuntoday)