Foto utama berita: Lestarikan Identitas Kota  Madiun Lewat Selembar Kain Batik

Lestarikan Identitas Kota Madiun Lewat Selembar Kain Batik

MADIUN – Pecel, pendekar, sejuta bunga hingga melati tak hanya dikenal lewat cerita atau ikon Kota Madiun. Di tangan para pembatik, identitas itu dituangkan menjadi motif di atas selembar kain. Setiap goresan canting menjadi cara untuk menjaga cerita dan kekayaan budaya lokal tetap hidup.

Salah satunya dilakukan Bu Sutama, perajin batik asal Kelurahan Pangongangan, Kota Madiun. Melalui By Batik Utama, perempuan 61 tahun tersebut terus mengembangkan motif yang merepresentasikan karakter Kota Madiun sekaligus menyesuaikannya dengan selera masyarakat.

Batik Pecel menjadi salah satu motif yang dikerjakannya. Begitu pula motif Pendekar dan Sejuta Bunga. Ada juga motif Melati yang menjadi identitas salah satu kelurahan di Kota Madiun. Motif-motif tersebut tidak sekadar menjadi hiasan kain, tetapi membawa unsur lokal ke dalam karya yang bisa dikenakan dan dinikmati masyarakat.

Menariknya, perjalanan Bu Sutama dalam dunia batik justru bermula dari sebuah pelatihan pada 2014. Saat itu, setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), ia mengikuti pelatihan membatik yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Madiun. Bersama 13 peserta lainnya, ia belajar langsung di Yogyakarta selama sepekan.

"Awalnya saya sama sekali tidak bisa membatik. Melihat orang nyanting saja rasanya sulit. Tapi setelah belajar terus, lama-lama saya merasa nyaman dan akhirnya menekuni batik sampai sekarang," tuturnya.

Belajar membatik kemudian membawanya ke berbagai daerah, mulai dari Solo, Tulungagung, Surabaya hingga Pekalongan. Beragam teknik yang dipelajari menjadi bekal untuk mengembangkan karya sendiri.

Bagi Bu Ut, mempertahankan batik sebagai warisan budaya tidak berarti harus terpaku pada motif lama. Inovasi justru diperlukan agar batik tetap dekat dengan masyarakat dan tidak kehilangan peminat di tengah perkembangan zaman.

Karena itu, ia juga menerima pesanan dengan desain, motif dan warna sesuai keinginan pelanggan. Salah satunya batik untuk kebutuhan RT dan RW di Kelurahan Pangongangan yang dibuat menyesuaikan karakter serta permintaan pemesan.

Seluruh proses pembuatan dikerjakan secara manual. Kain dipersiapkan, kemudian dicanting, diwarnai, dikunci warnanya hingga melalui proses pelorotan malam. Untuk menghasilkan satu lembar batik tulis berkualitas, dibutuhkan waktu sekitar satu minggu. Prosesnya bisa lebih lama jika menggunakan pewarnaan berlapis.

Karya Bu Utama juga telah dibawa dalam berbagai pameran bersama Asosiasi Pembatik Kota Madiun. Selain dipasarkan melalui Dekranasda Kota Madiun, beberapa karyanya bahkan telah mengikuti pameran hingga ke luar Pulau Jawa.

Bagi Bu Ut, menjaga batik berarti menjaga identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, kreativitas dan inovasi harus berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan ciri khas daerah.

"Warisan budaya ini harus terus dijaga. Jangan sampai batik kita hilang atau diambil orang lain. Tugas kita sebagai pembatik adalah melestarikannya sekaligus mengenalkannya kepada generasi berikutnya," pungkasnya.

(im/madiuntoday)

Galeri Foto

6 foto
Kategori: Berita
Tag: #Berita #Seni dan Budaya #Keragaman Budaya #Tradisi
Bagikan:
Nael

Nael

Penulis artikel di Madiun Today — portal berita resmi Pemerintah Kota Madiun.

Artikel Terkait