MADIUN – Madiun dan sekitarnya diperkirakan masih bakal dilanda cuaca panas terik hingga beberapa hari ke depan. Dominasi langit cerah hingga cerah berawan menandakan musim kemarau belum usai. Para pengguna jalan, terutama pengendara motor, diimbau bersiap menghadapi risiko kulit semakin belang.
Pasalnya, cuaca menyengat ini diprediksi bertahan hingga tiga hari ke depan di wilayah Madiun, Ngawi, hingga Ponorogo. Pada siang hari, suhu udara bisa mencapai 32–35 derajat Celsius. Sementara saat malam hingga dini hari, suhu justru merosot lumayan jauh di kisaran 19–24 derajat Celsius.
Sengatan matahari yang cukup terik pada siang hari ini tak lepas dari minimnya tutupan awan di langit. Pranata Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Nganjuk, Setiyaris, menjelaskan bahwa pada puncak musim kemarau, sedikitnya awan membuat radiasi matahari leluasa mencapai permukaan bumi.
“Minimnya tutupan awan saat puncak kemarau membuat pemanasan permukaan semakin intens,” ujarnya.
Dampak fenomena ini ternyata tak sekadar bikin gerah. Udara yang kian kering juga meningkatkan risiko kebakaran lahan. Apalagi jika angin bertiup kencang, kombinasi cuaca panas dan kelembapan rendah akan membuat percikan api merembet jauh lebih cepat.
Menanggapi potensi bahaya tersebut, masyarakat diimbau lebih berhati-hati selama kemarau. Kebiasaan membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar sebaiknya dihindari. Selain itu, penggunaan air juga perlu dihemat mengingat kondisi kering masih berlangsung.
“Masyarakat harus menghindari pembakaran sampah maupun lahan. Kondisi suhu panas, kelembapan rendah, dan angin kencang dapat membuat api cepat menyebar,” tegas Setiyaris.
Anomali cuaca di wilayah Madiun Raya ini sendiri tak lepas dari pengaruh fenomena El Nino kategori kuat serta potensi Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif. Jika kedua fenomena iklim tersebut berlangsung bersamaan, curah hujan bakal semakin minim sehingga warga diimbau terus waspada menghadapi puncak kemarau ini. (bip/im/madiuntoday)