MADIUN – Geliat tari di Kota Madiun belum usai. Setelah Madiun Menari, panggung seni kembali hadir di lantai 2 Pasar Sleko. Kali ini, anak-anak muda madiun dan sekitarnya unjuk kebolehan lewat lomba tari tradisional kreasi.
Tak sekadar berebut juara, lomba yang digelar Aurora Entertainment bersama Disbudparpora Kota Madiun ini menjadi ajang mengasah kemampuan sekaligus mencari bibit-bibit penari muda.
Director sekaligus pemilik Aurora Entertainment, Henoch Kenan Mofu, mengatakan lomba tersebut tetap menempatkan tari tradisional sebagai dasar utama. Kreasi diberikan agar sajian tari lebih dekat dengan generasi saat ini, tanpa menghilangkan karakter dan estetika tari yang dibawakan.
“Tradisionalnya tetap menjadi dasar. Kreasi itu kita berikan supaya lebih mudah diterima generasi sekarang, tetapi jangan sampai menghilangkan karakter dan estetika dari tari tradisionalnya,” ujarnya.
Peserta dibagi dalam tiga kategori usia, yakni kategori A usia 4–8 tahun, kategori B usia 9–13 tahun, dan kategori C usia 14–18 tahun. Selain kategori tunggal, terdapat pula kategori grup yang menggabungkan peserta dari berbagai kelompok usia.
Antusiasme terlihat dari banyaknya peserta usia dini. Sekitar 40 peserta mengikuti kategori tunggal, sementara kategori grup sekitar 20 peserta. Tak hanya berasal dari Kota Madiun, tetapi ada juga dari Ponorogo, Mojokerto, Ngawi, Pacitan hingga Sragen.
Kehadiran peserta dari luar daerah sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi penari Madiun. Mereka tidak hanya mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan, tetapi juga bisa mengukur kemampuan dengan peserta dari daerah lain.
“Harapannya dari sini kita bisa mendapatkan bibit-bibit penari dari Madiun yang nantinya bisa kita bawa ke tingkat yang lebih tinggi,” jelas Kenan.
Tak berhenti pada kompetisi lokal, para juara 1, 2 dan 3 dari setiap kategori dipersiapkan untuk mengikuti event tingkat provinsi di Surabaya pada Desember mendatang.
Salah satu peserta, Safira Nurlaili Nirzar, 15, pelajar SMK Negeri 1 Geger yang berlatih di sanggar Daily ISY, turut mengikuti lomba bersama empat anggota grupnya. Safira dan timnya mempersiapkan penampilan selama sekitar satu bulan dengan membawakan tari Berkas Segoro.
Bagi Safira, pengalaman menjadi hal yang lebih penting dibanding sekadar mengejar kemenangan. Lomba menjadi kesempatan buat meningkatkan kemampuan menari, menambah relasi, sekaligus membawa pesan melalui karya yang mereka tampilkan.
“Masalah menang atau kalah itu urusan belakang. Menang itu cuma bonus, yang penting kita bisa menambah pengalaman,” tuturnya.
Dengan begitu, kegiatan ini diharapkan tak hanya meramaikan lantai 2 Pasar Sleko, tetapi juga menghidupkannya sebagai ruang positif untuk berkumpul, berkreasi, dan menikmati kuliner. Dari panggung inilah, kreativitas serta bibit penari muda Madiun diharapkan terus tumbuh dan menembus panggung yang lebih luas. (w.s hendro/im/madiuntoday)