MADIUN – Keberadaan tikus di lingkungan permukiman tidak hanya mengganggu kenyamanan. Temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Manisrejo membuka kewaspadaan baru terhadap penyakit yang berkaitan dengan tikus. Dari survei yang dilakukan, pinjal Xenopsylla cheopis yang diperoleh dari tikus terdeteksi membawa Rickettsia typhi, bakteri penyebab murine typhus atau demam tikus.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ristyanto, menjelaskan penelitian menemukan tiga spesies tikus, yakni tikus rumah (Rattus tanezumi), tikus got (Rattus norvegicus), dan mencit (Mus musculus). Dari tikus-tikus tersebut juga ditemukan pinjal Xenopsylla cheopis.
“Setelah kami periksa dari 10 ekor pinjal yang kami dapatkan dari tikus-tikus tersebut itu mengandung Rickettsia typhi,” ujarnya.
Rickettsia typhi merupakan bakteri penyebab murine typhus atau demam tikus. Temuan tersebut, lanjut Ristyanto, mengindikasikan kemungkinan adanya siklus penularan bakteri tersebut di lingkungan tikus di wilayah penelitian, khususnya antartikus. Meski begitu, Ristyanto menekankan bahwa temuan Rickettsia typhi tersebut belum menunjukkan adanya penularan kepada manusia di Kota Madiun.
Karena itu, masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Langkah pencegahan dapat dimulai dari hal sederhana, terutama menjaga sanitasi lingkungan dan kebersihan diri serta mengendalikan populasi tikus di sekitar rumah.
“Intinya bahwa sanitasi individu dan sanitasi lingkungan itu solusi yang terbaik untuk mengendalikan Rickettsia typhi,” terang Ristyanto.
Sejauh ini, BRIN belum mengetahui seberapa besar persoalan Rickettsia typhi pada manusia di Kota Madiun. Meski begitu, infeksi bakteri tersebut tetap perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan demam tinggi dengan gejala yang menyerupai penyakit lain, termasuk tifoid. Ristyanto pun mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala yang muncul.
Menurutnya, kewaspadaan juga diperlukan karena infeksi Rickettsia typhi dapat ditemukan bersamaan dengan penyakit yang berkaitan dengan tikus, seperti leptospirosis. Karena itu, upaya pencegahan berbasis lingkungan menjadi penting agar potensi penularan dapat ditekan sejak awal.
Pemilihan Kota Madiun sebagai lokasi penelitian juga bukan tanpa alasan. Ristyanto menyebut Madiun memiliki posisi strategis sebagai kota transit dengan mobilitas penduduk yang tinggi. Sebelum di Madiun, penelitian serupa telah dilakukan BRIN di kota-kota besar lainnya seperti Malang, Pasuruan, Surabaya, dan Gresik.
“Kemudian juga mobilitas penduduknya tinggi. Kita tahu kalau zoonosis dengan penduduk yang mobilitasnya tinggi kan sangat berisiko,” jelasnya.
Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi bagian dari kewaspadaan dini. Ristyanto menegaskan temuan bakteri pada pinjal bukan berarti masyarakat harus khawatir berlebihan. Justru informasi tersebut penting agar langkah pencegahan dapat dilakukan lebih awal, baik oleh masyarakat maupun pemerintah daerah.
’’Ini bukan berarti penyakit itu sudah ada pada manusia. Mudah-mudahan tidak ada. Ini untuk kewaspadaan dini saja,’’ pungkasnya.
(Bip/rat/madiuntoday)