MADIUN – Warisan budaya Jawa tak cukup hanya dikenalkan lewat buku pelajaran. Sebanyak 1.588 pelajar SD dan SMP se-Kota Madiun ikut ambil bagian dalam lomba menulis aksara Jawa, lomba membaca geguritan, serta gerakan menulis aksara Jawa, Jumat (18/9). Kegiatan yang berlangsung di kawasan Pahlawan Religi Center (PRC) dan Pahlawan Street Center (PSC) itu menjadi ruang bagi generasi muda untuk kembali mengenal bahasa, sastra, dan aksara warisan leluhur.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Madiun Lismawati, mengatakan kegiatan tersebut diinisiasi melalui bidang kurikulum, khususnya pembinaan bahasa dan sastra. Menurutnya, kegiatan semacam itu penting untuk menjaga bahasa Jawa tetap dekat dengan generasi muda.
“Tujuannya agar anak-anak ke depan tetap nguri-uri basa Jawa, merasa bangga dengan kebudayaan leluhur, kemudian melestarikannya secara berkesinambungan. Jadi, supaya bahasa Jawa itu tidak hilang ketika anak-anak nanti ke depan,” ujarnya.
Menurut Lismawati, upaya menjaga bahasa Jawa juga tidak berhenti pada kemampuan berbicara atau menulis. Ada nilai budaya yang ikut dibawa melalui bahasa tersebut, salah satunya unggah-ungguh dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu menjadi perhatian karena penggunaan bahasa Jawa di kalangan anak muda saat ini mulai berkurang. Karena itu, pelajar perlu diberi ruang untuk mengenal dan mempraktikkan bahasa serta budaya Jawa dengan cara yang lebih dekat dengan mereka.
“Anak-anak luar biasa antusiasnya. Di sini kita juga membumikan unggah-ungguh, karena di era sekarang unggah-ungguh agak tergeser sedikit. Kita berkewajiban bagaimana supaya unggah-ungguh dan tata krama anak-anak itu tetap dijaga,” jelasnya.
Dengan keterlibatan langsung dalam lomba maupun gerakan menulis, pelajar tidak hanya belajar mengenai bentuk aksara atau sastra Jawa. Mereka juga diperkenalkan pada pesan dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Lismawati pun berpesan kepada para peserta agar mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh dan sportif. Baginya, keberlanjutan budaya Jawa sangat bergantung pada generasi yang saat ini sedang belajar dan mengenalnya.
“Laksanakan dengan sepenuh hati. Karena melalui kalian semuanya budaya Jawa itu akan bisa dilestarikan. Tanpa kalian semuanya, jati diri orang Jawa itu nanti akan hilang ditelan waktu,” pesannya.
Dari sisi pelaksanaan, keterlibatan pelajar dalam kegiatan tersebut memang tidak hanya berbentuk lomba. Panitia membagi kegiatan ke dalam lomba menulis aksara Jawa, lomba membaca geguritan, serta gerakan menulis aksara Jawa dengan peserta dari jenjang SD dan SMP.
Panitia sekaligus juri lomba geguritan dan menulis aksara Jawa, Dian Kiswarini, menjelaskan bahwa khusus lomba menulis aksara Jawa, peserta tidak menulis secara bebas. Mereka sudah mendapatkan dua sesanti yang ditentukan dalam petunjuk teknis untuk masing-masing jenjang.
Untuk tingkat SD, peserta menulis “Crah Agawe Bubrah, Rukun Agawe Santosa” dan “Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe”. Sedangkan peserta SMP menulis “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti” serta “Nglurug Tanpa Bala, Sugih Tanpa Bandha, Menang Tanpa Ngasorake”.
Sesanti tersebut sudah dipelajari dan dilatih peserta di sekolah masing-masing. Saat perlombaan, mereka tinggal mengingat kembali tulisan tersebut kemudian menuangkannya ke dalam aksara Jawa.
“Jadi mereka sudah berlatih di sekolahnya masing-masing. Setelah itu di sini mereka tinggal menghafalkan dan menuliskan lagi,” kata Dian.
Karena itu, kemampuan peserta tidak hanya dilihat dari hafalan. Ketepatan dalam menerapkan kaidah aksara Jawa menjadi bagian penting dalam penilaian. Selain itu, bentuk tulisan juga diperhatikan dari sisi estetika.
“Ada dua kriteria penilaian. Yang pertama dari segi benar salahnya, jadi kaidah penulisan aksara Jawanya sudah sesuai atau belum. Yang kedua dari segi keindahan estetikanya,” terangnya.
Menurut Dian, ketelitian menjadi tantangan tersendiri karena kesalahan dalam proses belajar bisa terbawa saat perlombaan. Peserta harus benar-benar memahami bagaimana setiap aksara ditulis, bukan sekadar mengingat bentuknya.
Lomba menulis aksara Jawa tingkat SD diikuti perwakilan dari 67 sekolah negeri dan swasta, masing-masing tiga peserta. Sementara tingkat SMP diikuti 25 sekolah dengan lima peserta dari setiap sekolah.
Selain itu, lomba membaca geguritan diikuti 62 peserta tingkat SD dan 25 peserta tingkat SMP. Sedangkan gerakan menulis aksara Jawa melibatkan 10 siswa dari setiap SD dan 20 siswa dari setiap SMP.
Gerakan menulis tersebut berlangsung di kawasan PRC hingga ruas jalan menuju Jalan Kalimantan. Sementara lomba menulis aksara Jawa berlangsung di lokasi kegiatan, berdampingan dengan rangkaian kegiatan bahasa dan sastra Jawa lainnya.
Lewat rangkaian kegiatan tersebut, aksara dan sastra Jawa tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari masa lalu. Pelajar diajak mengenalnya secara langsung agar bahasa, tulisan, dan nilai budaya yang menyertainya tetap memiliki tempat di tengah generasi muda Madiun. (bip/im/madiuntoday)