MADIUN - Influenza tipe A belakangan ramai diperbincangkan di tengah masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat virus influenza A masih ditemukan dalam pemantauan kasus influenza di Indonesia. Masyarakat pun perlu mengenali gejala serta cara mencegah penularannya, tanpa perlu menyikapi informasi tersebut secara berlebihan.
Berdasarkan surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang dilakukan melalui 39 puskesmas dan 35 rumah sakit, pada Agustus 2026 ditemukan beberapa jenis influenza, yakni influenza A(H1N1)pdm09, A(H3N2), dan influenza B Victoria. Pada pekan ke-34, aktivitas influenza berada pada level rendah dengan positivity rate 28 persen, sementara subtipe yang paling banyak ditemukan adalah influenza A(H1N1)pdm09.
Dokter paru Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), menyebut masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan dengan temuan tersebut. Menurutnya, H1N1pdm09 merupakan virus yang sebelumnya menyebabkan pandemi pada 2009 dan kini telah menjadi bagian dari influenza musiman yang masih beredar. Karena itu, keberadaan subtipe tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya pandemi baru.
Influenza A merupakan infeksi saluran pernapasan yang dapat menimbulkan gejala seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, hingga rasa lelah. Gejala biasanya muncul cukup mendadak. Sebagian besar penderita dapat pulih dengan istirahat dan perawatan mandiri, tetapi influenza dapat menjadi lebih serius pada anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis.
Penularan influenza dapat terjadi melalui percikan dari saluran pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara atau bernapas. Virus juga dapat berpindah melalui tangan atau permukaan yang terkontaminasi. Karena itu, ketika mengalami gejala flu, masyarakat dianjurkan beristirahat di rumah, membatasi kontak dengan orang lain, serta menggunakan masker apabila harus berada di dekat orang lain.
Untuk mencegah penularan, masyarakat dapat menerapkan kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, tidak menyentuh wajah dengan tangan yang belum bersih, serta menjaga sirkulasi udara. Vaksin influenza juga dapat menjadi salah satu upaya perlindungan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Selain itu, penggunaan obat sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan aturan pakai. Obat bebas pada umumnya hanya membantu meredakan gejala, sedangkan obat antivirus dapat diberikan dokter pada kondisi tertentu, terutama bagi pasien dengan risiko komplikasi atau gejala berat. Antibiotik tidak digunakan untuk mengatasi influenza karena penyakit tersebut disebabkan oleh virus, bukan bakteri.
(rams/kus/madiuntoday)