MADIUN – Tiga siswa dalam satu tim harus saling melengkapi di babak final Musabaqah Syarhil Quran (MSQ) Kota Madiun. Bukan hanya dituntut lancar melafalkan ayat, mereka juga harus mampu menerjemahkan dan memahami makna surat Al-Quran.
Suasana kompetisi pun berlangsung dinamis. Kemampuan hafalan menjadi salah satu bagian yang diuji, sementara dua anggota lainnya menghadapi materi penerjemahan dan pemaknaan. Pola tersebut membuat MSQ tak hanya mengandalkan kemampuan individu, tetapi juga membutuhkan kesiapan dan kekompakan dalam satu tim.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun menilai pembinaan seperti ini penting untuk membekali anak sejak dini. Pemahaman terhadap Al-Quran, termasuk tafsir dan maknanya, diharapkan dapat menjadi bekal bagi generasi muda sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kota Madiun.
“Dengan bekal ini, kita harapkan nanti pada saat dewasa, SDM di Kota Madiun jauh lebih tinggi kualitasnya,” ujarnya.
Plt walikota pun mendorong agar pembinaan MSQ ke depan semakin dikembangkan. Tidak hanya dari sisi jumlah peserta, tetapi juga kualitas pembinaan dengan melibatkan lebih banyak unsur yang memiliki kompetensi di bidang keagamaan.
Kabid Kurikulum, Pembinaan Bahasa, dan Sastra Dinas Pendidikan Kota Madiun, Slamet Hariyadi, menjelaskan final tahun ini diikuti 16 tim jenjang SD dan 21 tim jenjang SMP. Setiap tim terdiri atas tiga siswa dengan materi pengujian yang berbeda.
Untuk jenjang SD, peserta final merupakan hasil seleksi dari 67 sekolah. Sementara pelaksanaan kompetisi diselesaikan dalam satu hari. Peserta akan diuji melalui hafalan surat-surat Al-Quran, terutama Juz 30, kemudian penerjemahan dan pemaknaan surat yang diperoleh melalui undian.
“Dalam satu tim itu tiga anak memiliki ujian atau kompetisi yang berbeda-beda. Yang hafalan seperti MTQ, sedangkan penerjemahan dan pemaknaan lebih seperti cerdas cermat,” terang Slamet.
Ia menambahkan, MSQ telah dilaksanakan di Kota Madiun pada tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan tersebut menjadi salah satu sarana pembinaan bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperdalam pemahaman terhadap Al-Quran.
Ke depan, pengembangan pembinaan diharapkan dapat dilakukan melalui kolaborasi Dinas Pendidikan dengan MUI, DMI, pondok pesantren, serta organisasi keagamaan Islam lainnya. Dengan begitu, potensi peserta tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat terus dibina untuk menjadi bibit unggul di bidang keagamaan.
Para peserta yang berhasil meraih prestasi nantinya mendapatkan piagam penghargaan dan piala dari Dinas Pendidikan Kota Madiun sebagai bentuk apresiasi.
(rams/kus/madiuntoday)