Takut Kolesterol Gara-Gara Sate? Ahli Gizi: Jangan Salahin Kambingnya
MADIUN – Besok Idul Adha nie, stok daging kurban di rumah dipastikan mulai melimpah. Menu sate, gulai, hingga tongseng pun siap menggoda. Namun di balik nikmatnya olahan daging kurban, daging kambing hampir selalu jadi “kambing hitam” penyebab kolesterol dan hipertensi. Baru makan sate dua tusuk, sebagian orang sudah mulai waswas tensi naik. Padahal, ahli gizi menyebut yang lebih berbahaya justru bukan dagingnya, melainkan cara mengolah dan mengonsumsinya.
Ahli Gizi Rumah Sakit Paru Manguharjo Kota Madiun, Nikmahtul Fadilla, menjelaskan secara kandungan gizi, daging kambing justru memiliki kadar lemak dan energi lebih rendah dibanding daging sapi.
“Kalau dibandingkan dengan daging sapi, daging kambing itu lebih rendah energinya dan lemaknya juga lebih rendah. Jadi sebenarnya tidak benar kalau daging kambing langsung menyebabkan kolesterol dan hipertensi,” ujarnya, Selasa (26/5).
Nikmah menjelaskan, dalam 100 gram daging kambing terkandung sekitar 149 kkal energi dengan lemak 9,2 gram. Sementara daging sapi memiliki energi sekitar 190 kkal dengan kandungan lemak mencapai 12 gram.
Meski begitu, ia tak menampik banyak orang merasa “kumat” setelah makan olahan daging kurban. Namun penyebabnya lebih sering berasal dari cara pengolahan dan pola makan masyarakat saat Idul Adha. Menurutnya, kondisi itulah yang justru membuat kadar lemak, gula, dan garam dalam tubuh meningkat.
“Biasanya kan diolah jadi gulai, tongseng, rendang, sate dengan kecap banyak. Belum lagi makannya bisa berkali-kali dalam sehari dan jarang diimbangi sayur,” katanya.
Tak hanya soal pengolahan, Nikmah juga menyoroti gaya hidup masyarakat Indonesia yang masih jauh dari pola makan sehat. Ia menyebut konsumsi sayur dan buah masyarakat masih sangat rendah.
“Sebanyak 96,7 persen masyarakat Indonesia itu kurang konsumsi sayur dan buah. Jadi sebenarnya yang perlu dibenahi pola hidupnya, bukan menyalahkan daging kambing,” tegasnya.
Selain kurang makan sayur, masyarakat juga dinilai masih terlalu sering mengonsumsi makanan instan, minuman manis, hingga makanan tinggi lemak. Aktivitas fisik pun masih minim.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak kalap saat stok daging kurban melimpah di rumah. Untuk orang sehat, konsumsi daging merah disarankan sekitar 350 hingga 500 gram per minggu. Nikmah juga menyarankan masyarakat lebih bijak memilih menu olahan daging. Sop bening, semur ringan, atau sate dengan bumbu seperlunya dinilai lebih aman dibanding olahan bersantan pekat.
Yang tak kalah penting, kebiasaan minum es teh manis setelah makan sate juga sebaiknya mulai dikurangi.
“Kalau minumnya es teh, itu malah bisa menghambat penyerapan zat besi dari daging. Kalau mau lebih sehat ya air putih atau sari buah,” pungkasnya.
(Bip/rat/Madiuntoday)