Suasana Asri dan Kuliner Lokal, Pasar Tradisional Mbabrik Jadi Jujugan Baru Warga Kota Madiun
MADIUN – Suasana Minggu pagi di Jalan Pacarsari, RT 20 RW 06 Kelurahan Manisrejo, Kecamatan Taman, terasa berbeda. Di bawah rindangnya pohon jati, warga berdatangan menikmati sajian kuliner lokal di Pasar Tradisional Mbabrik, ruang baru yang lahir dari kreativitas masyarakat sekitar. Mengusung nama Mbabrik yang berarti kedusunan di Kelurahan Manisrejo tersebut, resmi beroperasi dan dibuka langsung oleh Plt Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, Minggu (14/6) .
Tidak sekadar menghadirkan aktivitas jual beli, Pasar Mbabrik juga membawa cerita tentang semangat warga dalam mengembangkan potensi lingkungan. Beragam produk UMKM tersaji, mulai dari kuliner tradisional hingga inovasi olahan kreatif masyarakat. Pembukaan Pasar Mbabrik semakin semarak dengan penampilan kesenian dongkrek dan campursari.
Konsep yang ditawarkan pun berbeda. Pengunjung tidak sekadar datang untuk membeli makanan, tetapi juga menikmati suasana pasar yang dibuat nyaman untuk bersantai bersama keluarga. Area yang asri membuat pengunjung tetap nyaman meski menghabiskan waktu lebih lama menikmati sajian yang tersedia.
Sebanyak 15 pelaku UMKM ikut meramaikan pasar perdana tersebut. Berbagai produk khas dan olahan rumahan tersaji, mulai dari sego tiwul, garang asem, ketan, aneka jenang, jajanan tradisional, hingga berbagai kue buatan warga.
Tidak hanya mengandalkan makanan tradisional, kreativitas warga juga terlihat dari hadirnya produk inovasi seperti es tungtung berbahan sayur dan buah. Sajian unik tersebut menjadi salah satu daya tarik karena mengolah bahan dari lingkungan sekitar menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Ketua RW 6 Kelurahan Manisrejo, Suyadi, mengatakan ide Pasar Mbabrik berawal dari keinginan warga untuk menghadirkan ruang bersama yang mampu menggerakkan ekonomi lingkungan. Menurutnya, Pasar Mbabrik menjadi langkah awal untuk memberikan ruang lebih luas bagi produk warga agar dikenal masyarakat. Ke depan, warga berharap pasar tersebut dapat terus berkembang dan menjadi salah satu tujuan kuliner baru di Kota Madiun.
“Persiapannya kurang lebih satu bulan. Kami mengumpulkan tokoh masyarakat di RW 6 untuk membahas konsep pasar ini. Alhamdulillah, akhirnya bisa terlaksana dan diikuti sekitar 15 UMKM. Harapannya nanti Pasar Mbabrik bisa maju lebih optimal, setara dengan pasar-pasar lain yang sudah ada,” ujarnya.
Keunikan lain hadir dari sistem transaksi yang digunakan. Pengunjung melakukan pembelian menggunakan uang kepeng sebagai alat pembayaran khusus. Uang kepeng tersebut tersedia dalam beberapa nominal, mulai dari 1 ribu, 2 ribu, 3 ribu, 5 ribu, hingga 10 ribu rupiah. Jika tidak habis digunakan, uang kepeng tersebut juga dapat ditukarkan kembali dengan uang rupiah.
Salah satu pedagang es tungtung, mengaku tidak menyangka antusias pengunjung pada pembukaan perdana cukup tinggi. Dagangan yang dibawa pun habis lebih cepat dari perkiraan.
“Alhamdulillah di Pasar Mbabrik ini ramai sekali. Ini baru perdana, tapi sudah banyak yang datang sampai dagangan habis. Pasar ini sangat membantu warga karena pemasaran produk jadi lebih dekat dengan lingkungan sendiri,” ungkapnya.
Sementara itu, Plt Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, mengapresiasi semangat warga yang mampu menghadirkan ruang ekonomi berbasis lingkungan. Menurutnya, Pasar Mbabrik menjadi contoh bagaimana potensi masyarakat dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif..
“Kalau saya menyebutnya ini Pasar Minggu Mbabrik. Awalnya aktivitas warga di sini sudah aktif melalui P2L, kemudian muncul produk-produk warga yang akhirnya dikembangkan menjadi pasar ini. Tadi saya nyoba paling enak itu ini pecel bongko. Nah, ini perlu nanti diperkenalkan,” katanya.
Dengan menggabungkan potensi kuliner lokal, suasana lingkungan yang nyaman, serta konsep unik melalui penggunaan uang kepeng, Pasar Minggu Mbabrik diharapkan menjadi salah satu pilihan baru warga untuk menikmati kuliner sekaligus mengenal produk kreatif masyarakat Manisrejo.
(Dspp/rat/madiuntoday)