Bukan Tosan Aji, Burung Perkutut juga Dijamas di Kota Madiun, Pemkot Dorong Jadi Agenda Besar ke Depan



MADIUN – Prosesi jamasan lazim dilakukan kala Bulan Suro. Namun, bukan hanya keris maupun tosan aji yang lainnya. Di Kota Madiun ada prosesi Jamasan Burung Perkutut Katuranggan. Hal itu seperti yang dilakukan komunitas Pecinta Perkutut (Pecintut) Kota Madiun, Selasa (16/6) sore. 

Layaknya jamasan benda pusaka, burung perkutut juga dimandikan dengan air kembang. Kegiatan yang berlangsung di Jalan Makam Tentara Kelurahan/Kecamatan Taman tersebut semakin menarik karena dihadiri Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun.

Plt wali kota pun mengapresiasi hadirnya kegiatan. Bahkan, berharap kegiatan bisa semakin besar ke depan. Hal itu bukan tanpa alasan. Plt wali kota melihat Jamasan Perkutut Katuranggan menyimpan potensi besar. Selain melestarikan budaya, juga mendatangkan wisatawan dan mendongkrak ekonomi sektor pariwisata. 

‘’Kalau saya, pikirannya pasti perputaran ekonomi. Ini potensi besar. Maka dari itu, untuk tahun depan saya minta dipersiapkan jauh-jauh hari,’’ kata Plt wali kota.

Kegiatan setidaknya dihadiri ratusan pecinta burung perkutut dari berbagai daerah. Hal itu tentu berdampak langsung pada perekonomian daerah. Mulai dari urusan kuliner, perdagangan, hingga jasa penginapan. Plt wali kota berharap kegiatan bisa dipersiapkan lebih matang ke depan dengan konsep yang diperdalam. 

‘’Harus ada cerita yang bisa disampaikan kepada masyarakat. Jadi orang datang tidak hanya melihat acaranya, tetapi juga memahami sejarah dan makna budaya yang ada di balik tradisi tersebut,’’ jelasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Jamasan Perkutut Katuranggan Iwan Yudhi Atmoko menjelaskan bahwa tradisi tersebut memiliki makna khusus bagi para penghobi perkutut. Perkutut katuranggan diyakini memiliki kekhasan tertentu yang membuatnya berbeda dengan burung perkutut pada umumnya. Kepercayaan yang berkembang di masyarakat Jawa menyebutkan bahwa ciri-ciri tertentu pada burung tersebut berkaitan dengan nilai filosofis dan harapan dalam kehidupan.

‘’Burung perkutut ini dimandikan karena memiliki kekhususan dan kekhasan. Punya ciri-ciri dan punya tuah yang diyakini memiliki kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari,” katanya.

Bagi para pecinta perkutut, bulan Suro menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi sekaligus merawat hubungan dengan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Di tengah perkembangan zaman, jamasan menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang masih hidup di tengah masyarakat. (ws hendro/agi/madiuntoday)