Dari Kresek Bekas Jadi Karya, Bukti Pilah Sampah Tak Pernah Sia-sia



MADIUN – Berapa banyak kantong plastik yang masuk ke rumah setiap hari? Satu, dua, atau bahkan lebih. Sebagian besar mungkin hanya dipakai beberapa menit untuk membawa belanjaan, lalu berakhir di tempat sampah. Padahal, limbah plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Jika dipilah sejak dari rumah, plastik bekas justru bisa menjadi tabungan, diolah menjadi berbagai kerajinan, sekaligus membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.


Kebiasaan sederhana itulah yang kini menjadi salah satu fokus Pemerintah Kota Madiun dalam menangani persoalan sampah. Di tengah meningkatnya timbulan sampah, pemerintah menilai solusi tidak cukup hanya dengan memperbaiki sistem pengangkutan atau pengolahan di hilir. Perubahan harus dimulai dari hulunya, yakni dari rumah tangga melalui perubahan perilaku masyarakat.


Salah satu contohnya datang dari Warih Budi Purnawati, warga Jalan Jeruk, Kelurahan Taman, Ia membuktikan bahwa kantong kresek bekas yang kerap dianggap tidak bernilai dapat disulap menjadi berbagai kerajinan cantik dan fungsional, mulai dari tas belanja, tempat botol minum, rompi unik, hingga aneka produk lainnya. Berbekal hobi merajut, ia menganyam lembar demi lembar plastik kresek menjadi karya yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi warga lain untuk mulai memilah dan memanfaatkan sampah dari rumah.


"Awalnya memang dari hobi merajut. Saya juga sering mengikuti pelatihan dari kelurahan, kecamatan, hingga kota. Melihat kantong kresek jumlahnya banyak, saya akhirnya mencoba mengolahnya menjadi berbagai kerajinan," ujar Warih saat ditemui di rumahnya yang juga menjadi lokasi Bank Sampah Semangka X, Kamis (30/7).


Hasil karyanya pun tak hanya menjadi koleksi pribadi. Pada salah satu kegiatan arisan, Warih juga membagikan tempat tumbler berbahan plastik daur ulang hasil karyanya kepada para warga. Selain menjadi buah tangan, kerajinan tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk mengurangi penggunaan plastik dan menunjukkan bahwa limbah plastik masih memiliki nilai guna. Bahkan, kreativitasnya menarik perhatian warga dari luar daerah yang datang khusus untuk belajar mengolah sampah plastik menjadi berbagai kerajinan.


Dengan dibantu ibu-ibu anggota Bank Sampah Semangka X, kantong-kantong plastik bekas terlebih dahulu dipilah sebelum diolah menjadi berbagai kerajinan. Sementara botol plastik, kardus, kertas, dan sampah anorganik lainnya dikumpulkan untuk ditabung. Hasil penjualannya kemudian dikonversi menjadi tabungan emas.


"Warga sekarang juga mulai memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk organik cair atau lindi untuk tanaman. Harapan saya, ke depan semakin banyak pelatihan pengolahan sampah agar kreativitas warga terus berkembang," tambahnya.


Bagi Warih, mengolah plastik bekas bukan sekadar menghasilkan kerajinan. Lebih dari itu, ia ingin menunjukkan bahwa setiap kantong plastik yang dimanfaatkan kembali berarti ikut menyelamatkan bumi. Dari kebiasaan sederhana memilah sampah di rumah, perubahan besar bagi lingkungan bisa dimulai.  (istimewa/rat/madiuntoday).