Berawal dari Rumah, Warga Pesanggrahan Ubah Cara Kelola Sampah Lewat Program Gasing



MADIUN – Perubahan dalam mengelola sampah di Pesanggrahan, Kelurahan Taman, tidak dimulai dari tempat pembuangan akhir ataupun mesin pengolah sampah. Semuanya berawal dari rumah. Dari kebiasaan sederhana, yakni memisahkan sampah organik dan anorganik sebelum dibuang.


Dulu, sebagian besar warga masih mencampur seluruh sampah rumah tangga dalam satu wadah. Sampah dapur, daun kering, plastik, hingga kardus berakhir di tempat yang sama sebelum dibawa ke TPS. Kini, kebiasaan itu perlahan berubah melalui Program Gasing (Gerakan Kelola Sampah Lingkungan Pesanggrahan) yang mengajak warga memilah sampah sejak dari sumbernya.


Ketua Proklim Pesanggrahan, Kurnia Fidiawati, mengatakan program tersebut lahir dari kesadaran bersama untuk mengelola sampah rumah tangga di lingkungan warga. Hasilnya, sekitar 80 persen masyarakat telah mengelola sampah anorganik melalui bank sampah, tetapi sampah organik masih belum tertangani secara optimal.


“Karena itu kami menawarkan solusi bagi warga yang belum bisa mengelola sampah organik sendiri. Mereka cukup memilah dari rumah, kemudian petugas mengambilnya untuk kami kelola bersama di rumah kompos,” ujarnya.


Saat ini sekitar 40 rumah tangga telah bergabung dalam Program Gasing. Warga hanya perlu menyediakan wadah khusus untuk sampah organik di rumah. Secara berkala, petugas mengambil sampah tersebut untuk diolah sesuai jenisnya. Daun-daunan dicacah menjadi kompos, sisa makanan segar dimanfaatkan sebagai pakan ayam, sedangkan limbah organik yang sudah membusuk diproses melalui berbagai metode pengomposan.


Kebiasaan memilah sampah dari rumah ternyata menjadi titik awal perubahan. Sampah anorganik tidak lagi tercampur dengan limbah dapur sehingga tetap bersih dan memiliki nilai ekonomi ketika disetorkan ke bank sampah. Sementara sampah organik tidak lagi berakhir di TPS, melainkan kembali ke lingkungan sebagai kompos.


“Kunci pengelolaan sampah itu ada pada pemilahan dari rumah. Kalau dipilah sejak awal, proses pengelolaannya jauh lebih mudah dan sampah yang masuk ke TPS bisa berkurang drastis,” ujarnya. 


Perubahan itu dirasakan langsung oleh Plato, warga RT 36 Kelurahan Taman. Sebelum mengikuti Program Gasing, seluruh sampah rumah tangganya dibuang ke TPS. Kini, sampah organik dijemput petugas tiga kali dalam sepekan sehingga rumah lebih bersih, tidak berbau, dan sampah yang harus dibuang semakin sedikit.


“Program ini sangat membantu. Kami tinggal memilah sampah organik di rumah, lalu petugas mengambilnya. Selain rumah lebih bersih, sampah yang dibawa ke TPS juga jauh berkurang. Harapan saya, program seperti ini bisa diterapkan di seluruh Kota Madiun,” ujarnya.


Dengan dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah, Program Gasing menunjukkan bahwa pengurangan sampah tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Cukup dengan memilah sejak dari sumbernya, timbulan sampah dapat ditekan, lingkungan menjadi lebih bersih, dan budaya baru peduli sampah perlahan tumbuh di tengah masyarakat.

(bip/kus/madiuntoday)