Ancaman Kemarau dan El Nino Mengintai, DKPP Kota Madiun Dorong Percepatan Tanam
MADIUN - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun mulai mengantisipasi potensi dampak musim kemarau dan fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong petani mempercepat masa tanam agar proses panen dapat berlangsung sebelum puncak musim kemarau.
Kepala Bidang Pertanian DKPP Kota Madiun, Niken Febrianti, mengatakan percepatan tanam menjadi strategi penting untuk mengurangi risiko penurunan produksi akibat berkurangnya ketersediaan air di lahan pertanian.
“Jika waktu tanam tepat, saat musim kemarau datang tanaman sudah memasuki masa panen sehingga dampaknya bisa diminimalkan,” ujarnya.
Menurut Niken, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September mendatang. Karena itu, petani diminta memanfaatkan ketersediaan air yang masih cukup saat ini untuk memulai musim tanam lebih awal.
Selain itu, DKPP juga menyiapkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebagai bentuk perlindungan bagi petani apabila terjadi gagal panen akibat kekeringan maupun faktor cuaca ekstrem lainnya. Program tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko kerugian yang ditanggung petani.
Upaya lain yang dilakukan adalah mendorong penggunaan pupuk organik serta mengembalikan jerami ke lahan setelah panen. Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan cadangan air sehingga tanaman lebih tahan terhadap kondisi kering.
DKPP juga mengimbau petani menggunakan varietas padi yang lebih adaptif terhadap musim kemarau. Salah satunya varietas Inpari 32 yang dikenal memiliki produktivitas tinggi serta lebih tahan terhadap kekeringan dan sejumlah penyakit tanaman.
Saat ini, sejumlah wilayah pertanian di Kota Madiun, seperti Banjarejo dan Winongo, telah memasuki masa tanam. DKPP berharap berbagai langkah antisipasi yang dilakukan sejak dini dapat menekan dampak kemarau terhadap produksi pertanian tahun ini.
“Kami berharap langkah-langkah tersebut mampu meminimalkan dampak kemarau terhadap sektor pertanian di Kota Madiun,” kata Niken.
Lebih lanjut, Niken menjelaskan bahwa pengembangan sektor pertanian di Kota Madiun saat ini difokuskan pada peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada. Pasalnya, luas baku sawah di Kota Madiun yang sekitar 870 hektare relatif terbatas dan berpotensi berkurang seiring kebutuhan pembangunan di berbagai sektor.
Karena itu, strategi intensifikasi pertanian menjadi pilihan utama untuk menjaga ketahanan pangan daerah. “Kuncinya adalah meningkatkan produktivitas lahan yang tersedia agar hasil pertanian tetap terjaga,” tegasnya.
(bip/kus/madiuntoday)